Aturan Baru IFAB Dorong Sepak Bola Lebih Progresif, Tim Lambat Berisiko Tertinggal
Delapan perubahan yang diterapkan Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) untuk Piala Dunia 2026 dan musim ke depannya. Ini kata pengamat.
Penulis:
Muhammad Nursina Rasyidin
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Jeda akan diambil sekitar pertengahan setiap babak (menit ke-22).
Wasit diberi sedikit fleksibilitas dalam menentukan waktu istirahat. Misalnya, jika seorang pemain cedera dan membutuhkan perawatan pada menit ke-20, wasit dapat memberi isyarat untuk istirahat minum.
8. Cedera Penjaga Gawang
Jika penjaga gawang sedang menerima perawatan di lapangan, pemain dari kedua tim tidak diperbolehkan meninggalkan lapangan dan harus beristirahat sejenak bersama pelatih masing-masing.
Jepang Memanfaatkan Momentum
Jepang adalah salah satu kontestan Piala Dunia 2026 yang sudah menerapkan aturan baru di atas dan memberikan keuntungan terhadap kemenangan mereka.
Pada akhir Mei lalu melawan Islandia Baru, Jepang mencetak gol saat Islandia bermain dengan 10 pemain karena terikat dengan aturan pergantian pemain.
Pemain sayap Islandia, Isak Thorvaldsson tidak dapat masuk ke lapangan karena harus menunggu satu menit sebelum mendapatkan instruksi dari wasit.
Pada saat itu, Jepang berhasil mencetak gol, 54 detik setelah Thorvaldsson dicegah memasuki lapangan.
Gol yang dicetak oleh Koki Ogawa melalui sundulan pada menit ke-87 itu membawa Jepang meraih kemenangan 1-0 atas Islandia.
"Menurut saya, para pemain menangani penyesuaian aturan baru hari ini hampir tanpa masalah," komentar pelatih Jepang, Hajime Moriyasu setelah pertandingan, dikutip dari BBC.
"Dengan aturan baru ini, pemain mungkin tidak bisa kembali ke lapangan secepat sebelumnya. Itu sesuatu yang perlu kita perhatikan. Baik saat pergantian pemain atau di momen lain, kita perlu menghindari menciptakan celah yang memberi lawan kesempatan," sambungnya.
Baca juga: Lionel Messi Tambah Koleksi Prestasi, Diganjar Penghargaan Bergengsi Sebelum Piala Dunia 2026
Pandangan Lokal dari Aturan Baru IFAB
Pengamat sepak bola asal Semarang, Gigih Windar menilai, sejumlah perubahan aturan yang berlaku di Piala Dunia saat ini seakan mengingatkannya pada momentum tahun 1992 ketika ada larangan back pass (umpan balik) ke penjaga gawang.
Aturan itu pertama kali diterapkan di Olimpiade 1992, menurut ESPN.
Aturan yang pada akhirnya merubah cara bermain dan membuat momentum permainan terus berjalan.
"Setelah 1992 ada larangan back pass ke keeper, kemudian sepak bola berubah lagi lebih cepat. Sebenarnya, tujuan perubahan aturan itu membuat momentum itu berjalan terus," ungkap Gigih saat dikonfirmasi Tribunnews, Kamis (4/6).