Tribun Techno
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Lima Langkah Perusahaan Hindari Risiko Peretasan

Pandemi global Covid-19 mendorong terjadinya disrupsi dalam bisnis yang juga meningkatkan risiko penipuan berbasis teknologi

Lima Langkah Perusahaan Hindari Risiko Peretasan
Istimewa
Foto ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pandemi global Covid-19 mendorong terjadinya disrupsi dalam bisnis yang juga meningkatkan risiko penipuan berbasis teknologi/ penipuan siber. 

Hal ini didasari pada beberapa hal seperti banyaknya pekerja yang bekerja dari luar kantor menggunakan teknologi sehingga meningkatkan resiko keamanan siber dengan traffic yang berkali lipat. 

Baca: FBI Turun Tangan Selidiki Peretasan Banyak Akun Pesohor Dunia di Twitter

Grant Thornton, salah satu organisasi global terkemuka yang menyediakan jasa audit, tax, dan advisory baru-baru ini melakukan polling kepada 615 orang terkait latar belakang profesi seperti CFO, Controller, Akuntan, Auditor Internal, Analis Keuangan dan Tax Professional untuk melihat gambaran nyata kenaikan fraud selama pandemi. 

Dalam survei tersebut terlihat 17 persen dari responden telah mengalami fraud sepanjang pandemic ini dan hanya 18 persen responden yang telah memiliki rencana penanggulangan fraud Covid-19 ini. 

Mereka juga berpendapat ada 3 (tiga) peretasan yang dirasa paling berbahaya saat ini antara lain pengambilalihan akun, penipuan berbasis aplikasi serta ancaman dari orang dalam.   

Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengungkapkan berbagai indikasi menunjukkan penipuan siber memiliki risiko meningkat beberapa bulan mendatang, bahkan saat memasuki fase new normal ini. 

"Beberapa langkah perlu dilakukan agar perusahaan dapat menghadapi ancaman gelombang peretasan berikutnya, melindungi aset mereka secara keseluruhan, dan memastikan tersedianya sumber daya untuk menghadapi berbagai gangguan penipuan siber tersebut," kata Johanna dalam keterangannya, Kamis (23/7/2020). 

Baca: Tak Hanya di Indonesia, Tersangka Peretasan Situs Lembaga Negara Juga Beraksi di Mancanegara

“Meskipun sejak sebelum pandemi ancaman peretasan siber sudah terasa nyata, saat ini manajemen perusahaan perlu dua kali lipat lebih waspada dan memprioritaskan pembangunan sistem perlindungan yang memadai untuk menghindari ancaman kerugian yang lebih besar,” pungkas Johanna.

Berikut lima langkah perusahan menghindari risiko peretasan: 

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Malvyandie Haryadi
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas