Industri Perbankan Digital Perkuat Keamanan dengan Teknologi Deteksi Deepfake
Transformasi perbankan digital bukan hanya soal kecepatan dan kemudahan, tetapi juga tentang kepercayaan.
Penulis:
Glery Lazuardi
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Maraknya ancaman deepfake mendorong industri perbankan digital mengadopsi teknologi deteksi canggih demi menjaga keamanan transaksi, melindungi identitas nasabah, dan memperkuat kepercayaan publik.
Deepfake adalah teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memanipulasi foto, audio, atau video sehingga tampak sangat realistis dan sulit dibedakan dengan konten asli.
Baca juga: Pemahaman Etika AI dan Literasi Digital Senjata Penting Melawan Kejahatan Deepfake
Isu ini dibahas dalam forum strategis “The Architecture of Advantage: Building the Next Decade of Indonesian Banking” pada 10DX Summit Indonesia 2026 di Pullman Jakarta Thamrin CBD, Selasa (10/2/2026).
Forum tersebut mempertemukan pemimpin perbankan, regulator, inovator fintech, dan pakar teknologi untuk merancang arah masa depan perbankan digital.
Viola Meiryan, Indonesia Country Director VisionLabs, menegaskan transformasi perbankan digital bukan hanya soal kecepatan dan kemudahan, tetapi juga tentang kepercayaan.
“Produk biometric tidak cukup hanya Face Recognition dan Liveness Detection, tetapi harus ditambahkan Deepfake Detection agar mencegah penyalahgunaan data pribadi,” ujarnya.
Dalam sesinya bertajuk “From Trust to Growth: How DeepFake Recognition Levels Up Your Experience on Liveness Detection”, Viola menjelaskan peran teknologi pengenalan wajah, liveness detection, dan deteksi deepfake dalam membangun kepercayaan nasabah sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis.
VisionLabs, yang telah digunakan di sektor perbankan, pemerintahan, transportasi, ritel, dan telekomunikasi di berbagai negara, menegaskan komitmennya memperluas jangkauan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
"Industri perbankan dan keuangan perlu membangun sistem digital yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan untuk dekade mendatang,” tambah Viola.
Mengenal Deepfake
Di tengah maraknya konten manipulatif berbasis teknologi, masyarakat kini dituntut lebih waspada terhadap deepfake.
Dilansir dari situs Massachusetts Institute of Technology (MIT), terdapat sejumlah tanda yang dapat membantu publik mengenali konten palsu tersebut.
Tips Mengenali Deepfake
• Wajah: amati perubahan mencolok pada wajah yang tampak tidak alami.
• Pipi & Dahi: perhatikan tekstur kulit, apakah terlalu halus atau tidak sesuai dengan usia.
• Mata & Alis: cek bayangan dan gerakan, deepfake sering gagal menciptakan efek alami.
• Kacamata: silau yang tidak konsisten bisa menjadi indikasi manipulasi.
• Rambut Wajah: kumis atau janggut sering terlihat tidak natural.
• Tahi Lalat: keaslian tanda wajah perlu diperhatikan.
• Kedipan: frekuensi kedipan yang tidak wajar bisa menjadi petunjuk.
• Bibir: ukuran dan warna bibir yang tidak sesuai dengan wajah dapat menjadi tanda.
Dengan memahami indikator tersebut, masyarakat dapat lebih kritis dalam menilai konten digital yang beredar.
Baca juga: Pemilu Jepang 2026 Dibayangi Deepfake hingga Video Palsu, Tokoh Politik Jadi Sasaran Fitnah
Baca tanpa iklan