Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Menengok Kecantikan Batik Lasem, Perpaduan Persia dan Tiongkok

Beberapa motif batik yang dipengaruhi budaya Tiongkok mayoritas berbentuk binatang.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Mohamad Yoenus
zoom-in Menengok Kecantikan Batik Lasem, Perpaduan Persia dan Tiongkok
Tribun Jateng/M Syofri Kurniawan
Ngeblok atau menutup bagian kain menggunakan malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rika Irawati

TRIBUNNEWS.COM, BABAGAN - Nama Lasem mulai populer seiring booming batik yang dihasilkan warga di pesisir utara Pulau Jawa ini.

Mengenal kebudayaan dan sejarah kota lewat city tour di Lasem bisa dimulai di Desa Wisata Batik Babagan.

Tak sulit menemukan tempat ini.

Gapura besar bertuliskan informasi desa wisata berdiri megah di sisi selatan jalan utama Pantura di Lasem atau dikenal pula sebagai Jalan Daendels.

Tak jauh dari gapura, berdiri baliho peta wisata yang menunjukkan beberapa pusat batik di Babagan.

Di kawasan ini, kita bisa melihat rumah-rumah tua khas Tiongkok.

Rekomendasi Untuk Anda

Mayoritas, milik pengusaha batik. Tak heran jika kawasan ini juga disebut pecinannya Lasem.

Batik Lasem
Pegawai Batik Tulis Sigit Witjaksono saat menyelesaikan pembuatan batik. (Tribun Jateng/M Syofri Kurniawan)

Kami memilih rumah batik Sekar Kencana yang berjarak sekitar 250 meter dari gapura masuk sebagai tujuan pertama.

Sekar Kencana merupakan rumah batik milik Sigit Witjaksono, yang juga tokoh Tionghoa Lasem.

Di rumah ini, Sigit memiliki sekitar 20 pegawai. Mulai pembuat pola, pembatik, juga tenaga pendukung yang memroses kain batik hingga siap jual.

"Saya sendiri yang membuat gambar, selanjutnya pegawai yang membuat pola di kain," ungkap Sigit.

Sigit
Sigit Witjaksono. (Tribun Jateng/M Syofri Kurniawan)

Di usianya yang menginjak 86 tahun, Sigit masih sigap. Dia tak segan menjelaskan dan menunjukkan dapur pembuatan batik.

Ada pegawai yang tengah nglengkreng (proses menutup pola menggunakan malam), nerusi (menutup pola menggunakan malam di sisi dalam pola), ngelir (pemberian warna pertama), nembok (memblok motif menggunakan malam), nglorot (memasak kain agar malam luruh sehingga motif batik mulai terlihat), juga menjemur kain batik yang sudah jadi dan siap jual.

"Tidak ada batik cap di Lasem, semua batik tulis. Dibutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menghasilkan satu kain batik. Itu sebabnya, harga batik Lasem mahal," kata penyuka keroncong dan campursari ini.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas