Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kisah di Balik Sate Kere yang Jadi Hidangan Pernikahan Kahiyang-Bobby

Di saat para bangsa kolonial memakan sate dengan bahan dasar daging, masyarakat Indonesia makan sate kere yang terbuat dari gambus tempe.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Kisah di Balik Sate Kere yang Jadi Hidangan Pernikahan Kahiyang-Bobby
KOMPAS.com/ Lulu Cinantya Mahendra
Sate kere Mbak Tug, langganan Presiden Joko Widodo di kampung halamannya 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sate Kere menjadi salah satu pusat perhatian diantara kuliner khas Solo.

Kuliner yang telah ada sejak zaman penjajahan ini digadang-gadang jadi salah satu hidangan dalam perayaan resepsi Kahiyang, 8 November nanti.

Saat kemunculannya sejak zaman kolonial, sate kere jadi pilihan sate untuk masyarakat Indonesia.

Di saat para bangsa kolonial memakan sate dengan bahan dasar daging, masyarakat Indonesia makan sate kere yang terbuat dari gambus tempe.

Baca: Ini Fakta-fakta Seputar Jual Beli Sabu di Rumah Wakil Ketua DPRD Bali

Bahan yang digunakan adalah tempe, tempe gembus (terbuat dari sari kacang kedelai), tetapi disatukan dengan beberapa jeroan.

Meski dibuat dari bahan yang sederhana, tetapi jangan remehkan rasanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Salah satu sate kere yang mahsyur di Solo ialah Sate Kere Mbak Tug. Sate kere di sini terkenal empuk dan bumbunya menyerap sempurna.

Tak heran Sate Kere Mbak Tug ini jadi salah satu langganan Presiden Jokowi.

Untuk menghidangkan sate ini, gambus tempe dan jeroan yang sudah disatukan direndam dengan campuran bumbu rempah khas.

Sehingga seluruh bumbu terasap sempurna sebelum dibakar.

Setelah itu, barulah dibakar diatas arang, seperti sate pada umumnya. Kemudian disiram dengan bumbu kacang, menyerupai bumbu pecel, tetapi lebih kental.

Baca: Dedi Mulyadi Akan Serahkan Langsung SK DPP Golkar ke Ridwan Kamil

Alhasil, citarasa yang dihasilkan ialah gurih, manis, asam, dan wangi dari daun jeruk yang ada di bumbu kacang buatan Tugiyem.

"Sate kere ini konon sudah ada sejak zaman Pasar Klewer berdiri. Kata orang dulu, sate kere ini jualnya pakai gendongan. Di atas kepala ditaruh arang bakaran. Kalau angin sedang kencang apinya nyala, jadi kadang orang kira itu kebakaran," jelas suami Tugiyem, Marimin (58) yang ditemui KompasTravel di tempatnya berjualan, Minggu (3/9/2017).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas