Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Alam Indonesia dalam Tradisi Yogyakarta, dari Mata Air hingga Merapi

Alam Indonesia dijaga lewat doa, ritual, dan tradisi. Yogyakarta punya caranya sendiri menjaga keseimbangan hidup.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Alam Indonesia dalam Tradisi Yogyakarta, dari Mata Air hingga Merapi
Shutterstock
TRADISI DAN ALAM - Ilustrasi warga mengikuti arak-arakan gunungan berisi hasil bumi dalam tradisi Yogyakarta yang merefleksikan cara masyarakat menjaga relasi dengan alam Indonesia melalui ritual adat dan budaya lokal. 

Puncak upacara ditandai dengan kirab sepasang boneka bekakak berbentuk pengantin yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah. Boneka ini melambangkan manusia dan diarak keliling desa sebelum diserahkan di kawasan Gunung Gamping, disertai doa bersama sebagai simbol tolak bala dan permohonan keselamatan. 

Saparan Bekakak mencerminkan kesadaran masyarakat bahwa gunung tidak hanya dipandang sebagai sumber material, tetapi juga ruang alam yang memiliki batas dan risiko. Melalui tradisi ini, warga menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam, sekaligus mewariskan pesan hidup selaras dengan lingkungan kepada generasi berikutnya. 

4. Wiwitan, Jejak Syukur Petani pada Alam 

Wiwitan merupakan tradisi agraris yang dilakukan petani Jawa sebelum panen padi dimulai. Di Yogyakarta, ritual ini masih dijumpai di wilayah Bantul dan Kulon Progo sebagai penanda dimulainya masa panen sekaligus wujud syukur atas padi yang tumbuh dengan baik. 

Prosesi Wiwitan digelar langsung di sawah dan dipimpin oleh sesepuh atau tokoh adat. Petani membawa sesaji dari hasil bumi seperti nasi gurih, ayam ingkung, jajanan pasar, dan hasil kebun. Doa bersama dipanjatkan sebelum beberapa batang padi dipotong menggunakan ani-ani sebagai simbol panen awal. Padi diperlakukan dengan hormat karena dipercaya sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar komoditas pertanian. 

Dalam tradisi Jawa, Wiwitan juga berkaitan dengan penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan dan padi. Nilai ini menegaskan relasi setara antar manusia dan alam. Bumi dipandang sebagai sedulur sikep, saudara yang harus dijaga agar tetap memberi kehidupan secara berkelanjutan. 

Usai ritual, makanan dibagikan dan disantap bersama sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong. Wiwitan tidak hanya menjaga ikatan sosial petani, tetapi juga mewariskan kearifan lokal tentang cara hidup selaras dengan alam, menghormati siklus tanam, dan menjaga ketahanan pangan dari generasi ke generasi.  

5. Labuhan Merapi, Harmoni Manusia dan Alam 

Rekomendasi Untuk Anda

Labuhan Merapi merupakan upacara adat Keraton Yogyakarta yang digelar setiap 30 Rajab di lereng Gunung Merapi. Tradisi ini menjadi wujud syukur sekaligus doa keselamatan, mengingat Merapi memiliki peran penting dalam sejarah, kehidupan, dan spiritual masyarakat Yogyakarta sejak masa Mataram. 

Prosesi Labuhan dilakukan dengan membawa ubo rampe berupa pakaian, makanan, dan perlengkapan simbolik dari Keraton menuju Pos Sri Manganti di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Sesaji tersebut didoakan dan diserahkan melalui juru kunci sebagai bagian dari hajad dalem Keraton. Ritual ini dijalankan secara khidmat dan hanya oleh pihak yang ditunjuk, menegaskan kesakralan tradisi. 

Makna Labuhan Merapi tidak berhenti pada ritual spiritual. Tradisi ini mencerminkan kesadaran manusia untuk hidup berdampingan dengan kekuatan alam. Konsep Hamemayu Hayuning Bawono menempatkan gunung dan laut sebagai penyangga keseimbangan, sehingga manusia dituntut bersikap rendah hati, menjaga alam, dan tidak melampaui batas. 

Nilai ekologis Labuhan Merapi juga terlihat dari berbagai pantangan yang mengiringinya, seperti larangan merusak hutan dan membawa pulang apa pun dari kawasan ritual. Aturan ini secara tidak langsung menjaga kelestarian lingkungan Merapi. Labuhan Merapi pun menjadi contoh bagaimana tradisi lokal berfungsi sebagai penanda relasi harmonis antara budaya, manusia, dan alam Indonesia. 

Warisan Budaya, Pesan Pelestarian Alam 

Kelima upacara adat ini menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta sejak lama memiliki kesadaran ekologis yang tumbuh dari budaya. Alam dihormati melalui doa, ritual, dan praktik nyata yang diwariskan lintas generasi. 

Melalui tradisi lokal, nilai menjaga gunung, air, dan hasil bumi disampaikan secara turun-temurun melalui praktik hidup sehari-hari. Alam dipahami sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan diwariskan dalam kondisi lestari. 

Lewat Lokal Asri, Tribunnews dan Tribun Network mengajak kamu mengenal kembali tradisi-tradisi lokal yang menjaga harmoni manusia dan alam Indonesia. Merawat alam bisa dimulai dari memahami budaya yang tumbuh bersama. 

Baca juga: 5 Makanan Ekstrem dari Alam Indonesia, Unik dengan Nilai Budaya Tinggi

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2

Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Lokal Asri yang berfokus pada lokalisasi nilai-nilai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pelajari selengkapnya!

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas