Kopi, Cerita, dan Ritme Kehidupan Jakarta
Di tengah ritme Jakarta yang cepat, secangkir kopi bukan sekadar minuman, melainkan jeda kecil yang memberi ruang untuk bernapas.
Penulis:
Anita K Wardhani
Editor:
Wahyu Aji
Secangkir hingga dua cangkir kopi murni sehari dianggap cukup untuk memperoleh manfaat tanpa menimbulkan efek samping berlebihan.
Namun, topik yang sering menjadi perhatian adalah konsumsi kopi bagi penderita GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
GERD merupakan kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup kerongkongan bagian bawah atau lower esophageal sphincter.
“Kalau pasien sudah terkena GERD, itu harus diobati dulu selama 8 minggu. Istilahnya kita tambal dulu luka-lukanya dan kuatkan kembali katup kerongkongan bagian bawah,” jelasnya.
Selama masa pengobatan, penderita GERD sebaiknya menghindari kopi, karena sifat asam dan kandungan kafein dapat memperburuk gejala seperti nyeri ulu hati atau rasa terbakar di dada.
Bisa Minum Lagi, Tapi Bertahap
Menurut dr. Pandu, setelah pengobatan selesai dan kondisi membaik, pasien bisa mencoba kembali minum kopi, namun dilakukan secara bertahap.
“Setelah itu, dicoba reintroduce sedikit-sedikit sesuai keadaan toleransi. Beberapa pasien saya bisa kembali minum kopi, tapi ada juga yang tidak bisa,” ujarnya.
Prinsip ini disebut personalized medicine, yaitu penanganan kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi tiap individu.
Tidak semua penderita GERD memiliki respons yang sama terhadap kopi, sehingga penting untuk memantau reaksi tubuh masing-masing.