Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Kasus Novel Baswedan

Kasus Novel dan Amsal Pertunjukan Wayang

"Borok-borok" Jaksa Fedrik pun mulai dikorek. Fedrik dikulik. Fedrik seakan telah menjadi "public enemy" atau musuh publik.

Kasus Novel dan Amsal Pertunjukan Wayang
kompas.com
Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan ditemui di depan kediamannya di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (11/4/2019). Novel Baswedan menyindir Presiden Jokowi terhadap tuntutan terhadap terdakwa kasus penyiraman air keras kepada dirinya. 

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

TRIBUNNEWS.COM - Kita tentu tak asing lagi dengan "wayang", kesenian tradisional asal Jawa, yang kerap digelar dalam acara-acara tertentu seperti khitanan, perkawinan, hingga Agustusan.

Pertunjukan wayang menyaratkan adanya wayang itu sendiri, "dalang" (sutradara), "lakon" (skenario), "kelir" (layar), "gamelan" (musik), "niyaga" (pemusik) dan "waranggana" atau "pesinden" (penyanyi).

Agar pertunjukan wayang dapat berlangsung dengan baik, maka diperlukan kekompakan dan kerja sama semua komponen tersebut, sesuai peran masing-masing.

"Wayang", yang berarti "bayangan" (karena jika dilihat dari balik layar yang tampak hanya bayangannya), peran, gerak-gerik, dialog, dan pola permainannya tergantung dalang yang memainkannya.

Sedangkan dalang, dalam memainkan wayang, tergantung skenario atau jalan ceritanya.

Robertino Fedrik Adhar Syaripuddin, salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan perkara penyiraman air keras penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6/2020), pun tampaknya tak lebih dari sekadar wayang yang dimainkan dalang.

Dus, mengikuti jalannya persidangan kasus Novel Baswedan, kita serasa menonton pertunjukan wayang yang mirip film, drama atau sandiwara.

Sang wayang, yakni Jaksa Fedrik, gegara menuntut Ronny Bugis dan Rahmat Kadir, oknum polisi yang menjadi terdakwa penyiram air keras terhadap Novel Baswedan, dengan hukuman 1 tahun penjara, langsung menjadi "center point" atau titik pusat perhatian publik, terutama para pendamba keadilan di negeri ini.

"Borok-borok" Jaksa Fedrik pun mulai dikorek. Fedrik dikulik. Fedrik seakan telah menjadi "public enemy" atau musuh publik.

Halaman
1234
Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas