Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Dramaturgi Keselamatan Jurnalis Pada Saat Pandemi Covid-19

Keberadaan jurnalis menjadi penjaga kejernihan informasi dari ketidakjelasan informasi semakin membuat masyarakat “gagal” mempersiapkan diri

Dramaturgi Keselamatan Jurnalis Pada Saat Pandemi Covid-19
freepik
Ilustrasi Corona Virus 

New Normal pada masa pandemi justeru berdampak lebih buruk bagi jurnalis. Sejak pandemi merebak di negeri ini, akhirnya dunia media dan pemberitaan akhirnya terdampak. Alhasil, normal baru bagi media dan awak media menjadi cerita berbeda.

Media mengalami kelesuan dan yang berpretensi pada kuantitas tenaga pekerja di dalam kantor media atau di lapangan. Sedang mereka juga mendapatkan tekanan kerja yang hampir bentuknya sangat normal artinya tidak ubahnya baik dalam kondisi pandemi atau tidak.

Data media berdasarkan setidaknya anggota asosiasi yang menjadi konstituen Dewan Pers Jumlah media di Indonesia pada awal 2020 lebih dari 1.878 cetak, online, radio dan televisi. Menurut data dari riset Jenderal Serikat Penerbit Pers (SPS) mengatakan, Covid-19 ini memberikan ancaman PHK yang sangat nyata bagi pekerja media.

SPS menaungi lebih dari 400 media di Indonesia. Sudah hampir separuh sudah dan sedang merencanakan PHK. Sebanyak 70 persen anggota sudah tidak mampu melihat jalan terang di balik pandemi.

Ini persoalan besar. Mereka menganggap tidak ada lagi ruang untuk berkreasi, tidak ada peluang di balik krisis. Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pun merilis survei, sebanyak 20 persen media online memilih untuk memotong gaji wartawannya ketimbang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Media yang merumahkan karyawan ada 15 persen, terjadi di Jawa Timur, Riau, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) secara eksternal mengutarakan bahwa ancaman terhadap kebebasan pers masih terjadi.

Reporters Without Borders menetapkan Kebebasan Pers Indonesia tahun 2021 di ranking 113 dari 180 negara. Posisi ini naik enam tingkat dibandingkan indeks tahun 2020.

Meski posisi ini naik, namun masih menempatkan kebebasan pers Indonesia dalam kondisi buruk (warna merah). Indikator- indikator ancaman kebebasan pers tersebut karena pemerintah memanfaatkan krisis Covid-19 untuk memperkuat represifnya terhadap jurnalis.

Tidak hanya dengan alasan membatasi informasi palsu terkait Covid-19, tapi juga larangan menerbitkan informasi yang menghina presiden atau pemerintah, meski tidak terkait dengan pandemi. Dalam setahun ini mencapai 90 kasus, jauh dibandingkan dengan periode sebelumnya sejumlah 57 kasus.

Halaman
1234
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas