Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Selamat Datang Era Masyarakat 5.0

Inti dari masyarakat 5.0 adalah mengembalikan hakikat manusia adalah pusat, teknologi adalah perkakas.

Editor: Dewi Agustina
Selamat Datang Era Masyarakat 5.0
IST
Ilustrasi kecerdasan buatan. Teknologi 6G akan merevolusi cara kerja kecerdasan buatan (AI), misalnya saat diaplikasikan pada dunia otomotif. 

Jika Frankenstein hanya menciptakan satu makhluk dan itu sudah menggemparkan jagat, maka 4.0 memproduksi massal aneka makhluk dengan berbagai fungsi dan kepentingan.

Jagat bisa gonjang-ganjing manakala produk 4.0 menjadi liar dan tidak bisa dikontrol manusia.

Muncul pandemi. Manusia berhenti bergerak. Produk 4.0 yang mengganti berbagai peran manusia. Ia bergerak, memenuhi kebutuhan manusia.

Mulai dari pangan, pendidikan, pekerjaan, hingga hiburan.

Karena pandemi, produk-produk 4.0 menjadi sahabat manusia. Kegagapan menggunakan berbagai perangkat digital, menjadi lancar karena keterpaksaan untuk menyiasati pandemi.

Perdebatan tiada ujung bahwa 4.0 akan meminggirkan dan mengancam manusia, berubah. Eksplorasi dan eksploitasi pilar-pilar 4.0 mendapat lampu hijau.

Bahwa pada akhirnya 4.0 adalah perkakas. Roh dan pengendali tetap pada manusia.

Dengan pandemi mempertegas bahwa manusia itu makhluk sosial.

Keinginan untuk meriung dengan manusia lain tidak bisa dibendung walaupun dengan risiko terpapar covid.

Melalui pandemi juga mempertegas manusia itu makhluk berbagi.

Memang ada oknum yang memanfaatkan pandemi untuk kepentingan pribadi. Namun itu hanya noktah hitam pada lautan warna-warni persaudaraan antarmanusia lintas etnis, agama, kelompok.

Menghadapi masifnya 4.0 yang ditakutkan mendewakan teknologi dan meminggirkan manusia, pada warsa 2019 pemerintah Jepang berkampanye tentang society 5.0 (Masyarakat 5.0).

Inti dari masyarakat 5.0 adalah mengembalikan hakikat manusia adalah pusat, teknologi adalah perkakas.

Tiga pilar 4.0 adalah bagian dari manusia. Digital bukan sekadar untuk menghimpun mahadata dan memperbesar komputasi awan, melainkan untuk menjalani kehidupan.

Teknologi 4.0 bukan untuk menjauhkan manusia, namun menghubungkan manusia.

Pandemi akhirnya mempercepat proses penerapan 4.0 pada kutub lain, sekaligus memperjelas keberadaan masyarakat 5.0 pada kutub satunya.

Hibrida menjadi jalan tengah. Hidup dalam dunia daring sekaligus mempererat kehidupan luring.

Masyarakat 5.0 merupakan praktik kehidupan yang berpusat pada manusia dengan basis teknologi. Selamat datang era 5.0.

A.M. Lilik Agung
Penulis buku Kompetensi SDM di Era 4.0, terbitan Elex Media Komputindo
Mitra Pengelola GALERI HC, lembaga pengembangan SDM

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas