Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Muktamar NU

Memisahkan NU dengan PKB = Menjadikannya Tanah Tak Bertuan & Membingungkan Nahdliyyin

Menjauhkan NU dari politik kekuasaan memang benar, tetapi tidak bijaksana. Politik kebangsaan adalah utopia kalangan elite Nahdliyyin.

Editor: Husein Sanusi
Memisahkan NU dengan PKB = Menjadikannya Tanah Tak Bertuan & Membingungkan Nahdliyyin
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Memisahkan NU dengan PKB = Menjadikannya Tanah Tak Bertuan & Membingungkan Nahdliyyin

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Pilihan elite Nahdliyyin untuk menjauhkan NU dari politik kekuasaan, walaupun "bener" tetapi tetap tidak "pener". Dua diksi ini (bener dan pener) sudah mafhum di lingkungan Nahdliyyin berkebudayaan Jawa. Tetapi, "bener dan pener" penting dijelaskan lebih jauh karena NU adalah milik semua putra bangsa.

Orang Jawa mengartikan "bener" serupa dengan "benar" dalam kosakata bahasa Indonesia. Sedangkan "pener" lebih dekat pada kosakata "arif-bijaksana". Jadi, jika sesuatu disebut "bener tapi tidak pener" berarti sesuatu itu sudah benar dalam pertimbangan akal rasional tetapi tidak arif bijaksana karena menyisakan sesuatu yang mengganjal di hati.

Menjauhkan NU dari politik kekuasaan memang benar, tetapi tidak bijaksana. Politik kebangsaan adalah utopia kalangan elite Nahdliyyin, yang pada gilirannya akan merugikan warga Nahdliyyin akar rumput (grassroots). Pengalaman menunjukkan warga Nahdliyyin dimobilisir pada setiap pesta demokrasi, dengan janji-janji manis berbalut ideologis.

Perhatikan pada pengalaman Pilpres 2019, pada masa-masa kampanye, Cawapres Ma'ruf Amin sempat dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atas tuduhan black-campaign/kampanye hitam. Saat itu Ma'ruf Amin dinilai mengatakan bila pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin kalah maka NU dan pesantren akan jadi fosil alias punah. Untuk apa menakut-nakuti NU dan pesantren jika memang pada dasarnya tidak ikut campur dalam politik kekuasaan?!

Tetapi, elite Nahdliyyin yang terus-menerus menggemakan ide politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan, tidak mau jujur. Padahal, Islam tidak bisa dipisahkan dari politik. Dan politik Islam tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan. Menjauhkan NU dan Nahdliyyin dari politik kekuasaan bertentangan dengan spirit keislaman, di satu sisi. Dan di sisi lain, juga bisa membodohi warga Nahdliyyin, karena tidak menyadarkan mereka bahwa satu suara sangat berharga.

Warga Nahdliyyin yang tidak sadar bahwa satu suara mereka sangat berharga, jatuh pada kebingungan. Mereka tidak tahu harus bagaimana memanfaatkan suara aspirasi mereka sendiri. Dalam kebingungan inilah, ketika para bakul politik datang, maka warga Nahdliyyin di level akar rumput bisa terseret ke berbagai partai politik yang bermacam-macam. Jumlah besar mereka menjadi buih di lautan yang tidak berharga.

Dalam suasana kebingungan warga Nahdliyyin yang sama ini pula, elite-elite Nahdliyyin datang bagaikan seorang Hero/Pahlawan. Mereka menawarkan janji-janji manis ideologis, memobilisir massa akar rumput ke dalam satu barisan yang sama, untuk mendukung salah satu pasangan calon. Sampai-sampai tanpa disadari, warga akar rumput ini sudah sepenuhnya basah kuyup oleh politik kekuasaan praktis pragmatis.

Ini adalah bentuk kemunafikan elite Nahdliyyin yang pro ide politik kebangsaan di level wacana, tetapi menjadi bandar di level politik kekuasaan. Kemunafikan semacam ini tidak boleh dipertahankan terus-menerus, karena hanya akan membodohi warga Nahdliyyin di level akar rumput. Sebaliknya, sejak dini sekali, elite-elite Nahdliyyin secara serentak mengajarkan warga akar rumput tentang pentingnya suara mereka, tentang betapa berharganya aspirasi politik mereka, sehingga mereka harus menyalurkan aspirasi itu lewat partai politik.

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas