Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

KPU Menghadapi Tantangan Komunikasi di Era Disrupsi Teknologi Digital

Jangan sampai muncul lagi tuduhan KPU gagap dalam menangani setiap persoalan.

Editor: Hasanudin Aco
KPU Menghadapi Tantangan Komunikasi di Era Disrupsi Teknologi Digital
Kompas.com/Moh Nadlir
Logo Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI digedung KPU RI, Jalan Imam Bonjol 29, Jakarta Pusat, Jumat (6/10/2017). 

Disrupsi Komunikasi KPU

Di era disrupsi seperti sekarang ini terjadi pergeseran dalam cara dan sikap kita berkomunikasi. Kebiasaan masa lalu kita kerap mengharuskan komunikasi dengan orang lain melalui tatap muka namun kini pandemi Covid-19 telah memberikan kebiasaan baru melalui daring.

Demikian pula sumber informasi publik saat ini tidak lagi hanya mengandalkan media konvensional tapi juga media digital seperti media sosial. Euforia kehadiran media sosial di tengah masyarakat belum juga pudar dan besar kemungkinan akan bertahan lama bahkan bisa jadi mengalami proses evolusi dalam bentuk lain yang lebih memikat masyarakat.

Dulu ketika belum muncul media sosial, mungkin informasi yang hendak di sampaikan KPU kepada publik cukup praktis hanya melalui media massa (media mainstrem). Namun kehadiran media sosial jelas menambah pekerjaan baru bagi KPU. Belum lagi hoaks yang muncul setiap saat seperti hantu gentayangan dan tak terbendung bak jamur yang tumbuh di musim hujan.

Media sosial bukan ancaman yang harus dihindari, ditakuti, atau diberangus melainkan partner yang harus dimanfaatkan untuk mengkomunikasikan program dan hasil kinerja KPU kepada publik.

Hal itu tentu persoalan baru bagi KPU yang harus dilakukan pemetaan dengan seksama dan melalui riset seperti apa pengaruhnya terhadap kinerja KPU, pengaruhnya terhadap sosialisasi tahapan Pemilu serta apa manfaatnya buat masyarakat umum terutama pemilih.

Dan tentu saja bagaimana memproyeksikan pengguna media sosial pada Pemilu 2024. Apalagi pemilih pada 2024 mayoritas berasal dari kalangan milenial yang seperti kita ketahui mereka sangat melek digital, melek media sosial karena mereka banyak menghabiskan waktunya berselancar di media sosial Facebook, WhatsApp, Youtube, Twitter, Instagram, dan sebagainya.

Komunikasi dua arah antara KPU dengan publik harus terjaga dan dijaga sejak dini. Publik harus merasa memiliki KPU dan bangga dengan KPU.

Bagaimana menjadikan KPU dan publik seperti berada dalam satu jiwa dan raga. Suasana kebatinan itu harus dibangun sejak awal dan berlangsung terus menerus tidak hanya ketika berlangsung tahapan Pemilu.

Menjadikan KPU lembaga yang dicintai rakyat itu hal yang nomor satu. Ketika kepercayaan itu muncul maka sosialisasi tahapan Pemilu akan mudah disampaikan kepada masyarakat. Secara psikologis, dukungan dari masyarakat tersebut juga akan berdampak positif terhadap tingkat partisipasi pemilih jika KPU sebagai pelaksana Pemilu telah mendapatkan ruang di hati masyarakat.

Halaman
1234
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas