Ojol Affan: Menyatukan Perjuangan Rakyat
Affan Kurniawan, pengemudi ojol, meninggal saat demo di Pejompongan, memicu solidaritas dan protes terhadap aparat brutal.
Editor:
Glery Lazuardi
Perhatikan saja dari pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani yang menyebut persoalan gaji guru dan dosen yang membuka wacana pembiayaan dari partisipasi publik serta tidak membedakan makna pajak dengan zakat
Affan Adalah Kita
Affan Kurniawan (21) yang menjadi martir dalam aksi unjuk rasa kali ini adalah representasi dari kebanyakan rakyat saat ini.
Affan adalah gambaran yang utuh dari keadaan rakyat sekarang ini. Tanpa ada perhatian dari negara, mencari uang untuk kebutuhan keluarganya yang miskin dengan menjadi pengumudi aplikasi online.
Menjadi pengemudi ojek online adalah gambaran kerasnya perjuangan hidup di jalanan.
Tanpa adanya proteksi jaminan kerja, batasan waktu kerja yang tidak menentu serta masih mendapat potongan penghasilan yang cukup besar dari aplikator.
Affan adalah potret kehidupan yang utuh dari anak muda kita – yang konon dibangga-banggakan – sebagai bagian dari Generasi Emas di 2045.
Meninggalnya Affan otomatis memantik solidaritas yang mudah tersulut apalagi menjadi korban kebiadaban aparat. Persepsi publik pun terhadap polisi sedang di bawah titik nadir – akibat perilakunya yang koruptif- sehingga mudah pula diajadikan “common enemy”
Di saat hidup rakyat tengah susah – beras mulai menghilang di pasaran – justru perilaku anggota DPR begitu menyakitkan hati publik. Ketika rakyat tengah susah dan berjibaku dengan kebutuhan hidup, anggota Dewan yang terhormat malah joget usai pidato kenegaraan presiden di parlemen.
Selaras dengan perilaku parlemen, pejabat-pejabat pun juga tanpa beban berjoget di Istana Negara saat peringatan Proklamasi. Joget memang tidak dilarang tetapi joget di atas penderitaan rakyat sepertinya semakin memperlihatkan putusnya rasa simpati dari elit-elit negeri ini.
Ketika anggota Dewan saling meributkan sendiri besaran gaji dan tunjangan yang diterimanya saban bulan, tercuat dana perumahan yang mencapai Rp 50 juta perbulannya.
Jika dihitung pro rata, anggota Dewan pula yang bilang yakni Rp 3 juta setiap harinya, perasaan publik begitu tercabik-cabik. Mulailah serangkan unjuk rasa menyasar gedung DPR di Kawasan Senayan, Jakarta.
Alih-alih menjawab simpati dan penuh tenggang rasa, justru anggota Dewan malah menyebut pendemo dengan kata “paling tolol”. Sebenarnya para pengunjukrasa sadar, tidak mudah membubarkan DPR tetapi mereka hanya minta atensi soal kinerja yang tidak sebanding dengan gaji dan tunjangan yang didapat anggota Dewan.
Akumulasi dari semua persoalan hidup yang pengap dan perilaku elit yang memuakkan membuat publik semakin apatis ketika presiden begitu royal membaggikan bintang mahaputra untuk sejumlah sosok. Publik mempertanyakan soal kriteria yang menerima “bintang”. Penghargaan Mahaputra menjadi kehilangan makna.
Kematian Affan sebagai martir menjadi pemantik tumbuhnya kesadaran mahasiswa, buruh dan pengemudi ojol untuk turun ke jalan di hampir semua wilayah di tanah air.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan