Guruku Mulia
Guru bukan hanya pengajar, tapi penuntun jiwa. Dari merekalah lahir generasi berilmu, berakhlak, dan cinta pada kedamaian.
Editor:
Glery Lazuardi
Kita yakin, banyak guru yang sangat mulia telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran mereka untuk kemajuan pendidikan anak-anak di negeri ini. Kita berharap, mereka dapat terus menularkan semangat dan pengalaman positif mereka, kepada guru-guru kita yang lain.
Bila menemukan guru yang lalai dan bahkan melenceng dari tugas mulianya maka guru yang lainnya, harus pro aktif, bekerja sama dengan kawan guru yang lainnya mengatasi hal tersebut. Jangan sungkan menyampaikan ke atasan, bermusyawarah dengan tokoh pendidik di sekitar lingkungan, berkoordinasi dengan komite sekolah dan pihak terkait lainnya, mengatasi guru yang rentang dan rawan bermasalah. Kita tidak ingin, satu orang guru melakukan perbuatan kekerasan, merusak kemuliaan guru-guru kita yang lain.
Bagi anak-anak kami, murid, siswa dan pelajar, dan juga mahasiswa, teruslah menuntut ilmu, teruslah bersemangat, teruslah berlelah keringat, teruslah membaca buku, teruslah membuka telinga, teruslah berlatih, teruslah berbuat terbaik untuk masa depanmu. Memang, dalam perjalanan kalian dan kita semua, seringkali tidak semulus yang kita kira. Tantangan datang silih berganti, seperti ombak yang tak pernah berhenti mendatangi pantai.
Namun, menyikapinya tidak mesti panik. Mereka yang berjalan di pantai, justru menikmati ombak yang datang menimpa kaki dan badan mereka. Bahkan, ombak yang besar bagi si pelancar, justru menjadi pembangkit berselancar di antara ombak biru yang indah itu.
Satu hal penting kita ingat dan patut dijaga adalah hormati mereka yang telah membantu mengukir hidupmu, baik Guru di rumah (Bapak/Ibu), Guru di sekolah dan Guru di lingkungan kita. Mereka para guru, telah secara tulus menularkan ilmu mereka, melatih dan mendidik kita semua. Bila ada salah, maafkan mereka. Mereka juga manusia biasa. Bila mereka melewati batas atau mengajarkan sesuatu, adalah tugas kita dan semua pihak meluruskan.
Bagi masyarakat, perlu terus mengawal guru-guru kita, mendukung mereka, melakukan terbaik untuk anak-anak, demi generasi masa depan negeri. Kritik buat mereka, adalah bumbu melezatkan suasana lingkungan pendidikan kita. Jadilah mata, telinga, mulut, kaki dan tangan bagi guru dan anak didiknya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inovatif, kreatif dan ramah.
Oleh karena itu, bagi penuntut ilmu, perlu terus belajar dan mengedepankan pendekatan "triangulasi" (perbandingan informasi dan data) dari berbagai guru agar ilmu yang didapatkan dapat lebih ramah dan bermanfaat. Kita menyayangkan bila ada lingkungan pendidikan, justru menciptakan generasi kekerasan, generasi yang menularkan kebencian, generasi yang radikal, generasi yang tidak ramah, generasi yang merasa diri paling benar, generasi sombong, generasi cuet tak peduli, generasi instan, generasi serakah, generasi perusak negeri.
Bila ada masalah, semua pihak perlu mengedepankan pendekatan damai, pendekatan dialog, pendekatan triangulasi atau "tabayyun". Tabayyun Istilah ini sering digunakan dalam Islam untuk mencari kejelasan atau memastikan kebenaran sebelum mengambil keputusan dan mendorong sikap agar tidak tergesa-gesa menyebarkan berita, apalagi jika dari sumber yang tidak dapat dipercaya, demi menghindari fitnah dan kesalahan.
Kita belajar pada kasus penanyangan program "Xpose Uncensored" di Trans7 (13 Oktober 2025), yang memicu kontroversi hubungan antara santri dan kiai di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dengan narasi yang dianggap merendahkan martabat pesantren.
Media adalah salah satu mata dan telinga publik. Namun, sekali lagi, prinsip triangulasi dan tabayyun perlu dilakukan. Apalagi pendidikan di lingkungan pesantren, bukan hanya sekedar menuntut ilmu umum. Hubungan antara guru (kyai) dan murid (santri ) melampaui hubungan guru-murid biasa, melainkan menjadi ikatan spiritual dan moral di mana kyai berfungsi sebagai ayah, pembimbing, dan teladan spiritual. Pendidikan Ilmu agama dilakukan secara bersanad dan bimbingan spritual dan tradisi wirid (amalan tertentu) dilakukan dalam rangka menciptakan ikatan spritual yang kuat, kesholehan dan akhlak mulia para santri secara berkelanjutan.
Murid (santri) mengabdi kepada guru (kyai) sebagai wujud khidmah (pelayanan) yang didasari keyakinan akan keberkahan, mendapatkan ridho dan doa orang sholeh, dan sarana mendidik jiwa dan membentuk karakter rendah hati (tawadhu), sabar dan ikhlas.
Oleh karena itu, "ilmu diperoleh dengan belajar, keberkahan ilmu diperoleh dengan khidmah" adalah slogan sangat populer di pesantren. Mereka tidak hanya berpikir di batas dunia yang material, tapi mereka mengajarkan "terang" dari kegelapan materialistik, sehingga "terang" juga nantinya ketika gelap datang setelah mata tertutup.
Walaupun begitu mulianya guru (Kyai) kita, Pendeta, Bhiksu, dan Guru Spritual lainnya, kita mengapresiasi kepada guru-guru yang mulia ini, mau menerima, bergaul, terbuka dengan kritik, mau berdiskusi, bersahaja, dan mengayomi. Kita berdoa, semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, selalu memberikan perlindungan, keberkahan kesehatan, kesejahteraan dan keistiqamahan kepada guru kita semua, Aamiin.
Selain di lingkungan pendidikan umum, kita juga perlu meningkatkan kewaspadaan terkait lingkungan pendidikan berbasis agama di sekolah agama dan di lingkungan masyarakat. Kita menemukan, selalu ada oknum, yang merusak dan mendegdradasi kemulian guru (Ustadz, Kyai, Pendeta, Bhiksu dan Guru Spritual pembimbing rohani lainnya).
Para oknum berkedok agama, tidak takut lagi dengan "malaikat" yang selalu mengawasinya, mencatat apa yang dilakukannya. Kesadaran spritual menipis dan bahkan tercabut.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.