Krisis Dunia Kerja Perlu Respons Cepat
Sulitnya mencari kerja makin dirasakan banyak orang. Bukan hanya lulusan baru, mereka yang berpengalaman dan ingin kembali memasuki dunia kerja
Editor:
Sanusi
Oleh: Nicha Muslimawati, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina
TRIBUNNERS - Sulitnya mencari kerja makin dirasakan banyak orang. Bukan hanya lulusan baru, mereka yang berpengalaman dan ingin kembali memasuki dunia kerja pun menghadapi tantangan yang semakin berat.
Sekalinya ada, syarat kerja terasa tak masuk akal. Pengalaman minimal bertahun-tahun untuk posisi junior, usia maksimal yang tidak realistis, atau syarat penampilan tertentu. Belum lagi harus berhadapan dengan “orang dalam” yang membuat persaingan kerja semakin sulit.
Berdasarkan laporan LPEM FEB UI, ada 1,87 juta orang yang mulai frustrasi mencari kerja. Mereka ingin bekerja, siap bekerja, namun mulai putus asa karena jalan untuk mendapat pekerjaan terasa semakin sulit. Kelompok ini disebut juga sebagai discouraged workers. Jumlahnya naik 11 persen dalam setahun, dari 1,68 juta pada Februari 2024 menjadi 1,87 juta pada Februari 2025.
Baca juga: Daftar Lowongan Kerja Desember 2025, Cek Syarat dan Link Pendaftaran
Lebih dari 50 persen kelompok tersebut adalah lulusan SD atau tidak tamat SD. Hal yang lebih memprihatinkan, keputusasaan ini bukan hanya menimpa mereka yang berpendidikan rendah. Laporan yang sama menunjukkan bahwa lulusan SMA, SMK, hingga sarjana pun mulai bergeser menjadi discouraged workers.
Sementara itu, generasi muda yang kerap dilabeli “siap digital” pun ternyata tak mendapatkan ruang seluas narasi pemerintah. Dari segi generasi, Generasi Z atau Gen Z yang baru memasuki pasar tenaga kerja, menyumbang sekitar 24,09 persen discouraged workers. Hal itu menunjukkan sulitnya transisi dari pendidikan ke pekerjaan formal akibat standar kompetensi yang meningkat dan minimnya pengalaman kerja awal.
Generasi X dan kelompok yang lebih tua mencakup sekitar 38,17 persen discouraged workers. Angka tersebut menjadi bukti tantangan adaptasi terhadap teknologi baru dan stereotipe usia dalam proses rekrutmen. Generasi Milenial menyumbang sekitar 24,56 persen, menghadapi kesenjangan antara aspirasi karier dan kondisi pasar kerja yang tidak menyediakan jalur progres yang jelas.
Pola ini menegaskan bahwa putus asa mencari kerja merupakan refleksi kegagalan ekosistem ketenagakerjaan menyediakan jalur transisi yang adil, relevan, dan mudah diakses oleh berbagai kelompok usia.
Baca juga: Tekan Jumlah Pengangguran, BP Batam Hubungkan Pencari Kerja dan Pelaku Industri
Sama halnya dengan bencana, krisis dalam dunia kerja juga perlu direspons secara cepat. Dalam kajian komunikasi krisis, Situational Crisis Communication Theory (SCCT) merupakan pemahaman fundamental tentang cara pemerintah merespons krisis berdasarkan persepsi publik terhadap tanggung jawab.
Teori yang dikembangkan W. Timothy Coombs itu menegaskan bahwa ketika publik menilai sebuah organisasi ikut menyumbang pada terjadinya krisis, maka organisasi tersebut wajib mengambil strategi komunikasi.
Dalam bahasa sederhana, SCCT menuntut pemimpin untuk berhenti sejenak dari pencitraan dan mulai berbicara jujur tentang persoalan yang mereka kelola. Untuk itu, pemerintah seharusnya mulai menjalankan strategi komunikasi berupa rebuilding, mengakui adanya masalah, menunjukkan empati, dan menyampaikan langkah korektif.
Pada kasus discouraged workers, pemerintah seharusnya cepat marespons dengan mengakui ada yang salah dalam struktur pasar tenaga kerja. Langkah pemulihan pasar tenaga kerja juga harus dilakukan.
Fenomena meningkatnya discouraged workers di Indonesia juga contoh nyata Teori Pelanggaran Harapan atau Expectancy Violations Theory (EVT). Teori yang diperkenalkan oleh Judee K. Burgoon ini menjelaskan, manusia memiliki harapan tertentu dalam interaksi sosial, termasuk dengan institusi seperti negara. Ketika harapan itu dilanggar, muncul reaksi negatif berupa kekecewaan, frustrasi, bahkan hilangnya kepercayaan. Jutaan pencari kerja ini berharap ada informasi lowongan yang jelas, proses seleksi yang adil, dan kesempatan yang realistis.
Baca juga: Kebijakan Trump Jadi Senjata Makan Tuan, Badai Pengangguran Diproyeksikan Hantam AS Tahun 2026
Ketika ekspektasi sosial itu berulang kali dilanggar, respons psikologis yang muncul adalah withdrawal. Mereka akan menarik diri dari pencarian kerja karena merasa seluruh jalur sudah tertutup. Mereka bukan malas atau tidak kompeten, melainkan korban dari pelanggaran ekspektasi yang terus terjadi tanpa perbaikan sistem.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.