Di Mana Posisi Rusia dan Tiongkok dalam Perang AS-Israel versus Iran?
Perang AS–Israel vs Iran memasuki pekan kedua, publik bertanya: di mana posisi Rusia dan Tiongkok?
Editor:
Glery Lazuardi

DI MANA RUSIA DAN TIONGKOK?
Begitulah kira-kira pertanyaan banyak pihak ketika mengamati jalannya perang AS-Israel versus Iran yang sudah memasuki pekan kedua.
Pertanyaan tersebut menjadi sebuah kelumrahan untuk diajukan mengingat Iran memiliki relasi yang sangat kuat dengan kedua negara dari sisi perdagangan, politik, dan pertahanan keamanan.
Selain itu, baik Rusia-Tiongkok maupun Iran memiliki cara pandang yang sama dalam menilai sikap hegemonik AS di kancah global.
Ketiga negara kerap mengambil posisi yang berlawanan dengan AS yang cenderung memaksakan kepentingan nasionalnya dengan cara-cara unilateralistis dan koersif.
Memasuki pekan kedua peperangan, secara taktis dan strategis, Iran dalam posisi terkepung. AS dan Israel semakin gencar melakukan serangan udara dengan tidak hanya menyasar instalasi militer, tapi juga instalasi energi milik Iran.
Serangan AS dan Israel juga seakan tak mengenal kontur dan tipologi target. Hampir seluruh provinsi di Iran, baik yang berbasis perkotaan maupun pedesaan menjadi sasaran rudal-rudal dan pesawat nirawak musuh.
Untuk mengakselerasi serangan, AS bahkan meminta sekutunya di NATO seperti Inggris, Spanyol, dan Jerman untuk turun langsung mendukung operasi.
Hal serupa juga dilakukan oleh Israel yang memainkan manipulasi politik dengan memprovokasi negara-negara kawasan untuk balik menyerang Iran.
Dalam meladeni kepungan AS dan Israel, Iran memang tidak sendiri. Gerakan militan di Timur Tengah yang selama ini memposisikan diri sebagai anti-Zionis juga terus serta turun ke gelanggang pertempuran seperti yang ditunjukkan oleh Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Dukungan ini cukup merepotkan musuh, namun tak cukup untuk memberikan dukungan militer penuh ke Iran. Di sisi lain, pilihan kebijakan Iran untuk menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah memiliki konsekuensi yang tidak kecil.
Serangan tersebut bergerak seperti bola biliar (biliard ball theory), yang mana target serangan adalah objek milik AS, tapi menimbulkan benturan politik dengan negara tempat pangkalan itu berada. Situasi ini tidak menguntungkan bagi Iran meskipun pernyataan dan komunikasi dilakukan dengan negara-negara kawasan untuk meminimalisir kesalahpahaman.
Kerja sama BRICS+ dan SCO
Dengan situasi yang tidak menguntungkan tersebut-untuk tidak menyebut potensi terdesak, maka pertanyaan lawas yang sudah diajukan banyak pihak sejak awal perang terkait posisi Rusia dan Tiongkok adalah sebuah kewajaran.
Rusia adalah mitra strategis Iran dalam hal ekonomi perdagangan. Lebih dari 80 persen kebutuhan minyak mentah Rusia dipasok oleh Iran. Dengan adanya perang yang berkecamuk dan ditutupnya Selat Hormuz, maka pasokan minyak mentah tersebut akan putus.
Hal yang sama juga berlaku bagi Tiongkok. Dalam relasi perdagangan Tiongkok, Iran adalah mitra dagang terbesar dan penyedia utama kebutuhan minyak mentah Tiongkok yang termanifestasikan dalam bentuk perjanjian kerja sama panjang selama 25 tahun senilai 400 miliar dolar AS.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan