Ketika Negara Diminta Berhemat
Rakyat biasanya tidak keberatan berhemat jika mereka melihat para pemimpinnya hidup dengan kesederhanaan yang sama.
Editor:
Malvyandie Haryadi
Sejarah penuh dengan teladan seperti ini.
Pada masa perang dunia, banyak negara mematikan lampu kota lebih awal, membatasi bahan bakar, bahkan memotong gaji pejabat tinggi.
Negara ingin menunjukkan bahwa krisis bukan hanya beban rakyat kecil, melainkan tanggung jawab bersama seluruh aparat negara.
Di sinilah saya merasa pidato itu menyimpan pesan yang lebih sunyi namun penting.
Pesan itu bukan hanya untuk para ekonom atau penyusun anggaran.
Ia sebenarnya ditujukan kepada seluruh abdi negara—baik yang berseragam militer maupun yang bekerja dalam sunyi meja birokrasi sipil.
Bahwa pengabdian kepada negara bukan sekadar menjalankan tugas administratif atau komando struktural. Pengabdian juga berarti kesediaan menahan diri ketika bangsa menghadapi masa sulit.
Dalam pengalaman banyak bangsa, krisis jarang dimulai dari ekonomi. Ia sering lahir dari ketegangan geopolitik yang tampak jauh, lalu menjalar seperti retakan kecil di dinding yang lama-lama meruntuhkan seluruh bangunan.
Karena itu, ujian terbesar bagi Indonesia bukan sekadar apakah kita mampu bertahan dari guncangan ekonomi global.
Sejarah menunjukkan bangsa ini berkali-kali mampu melewati badai.
Ujian yang lebih berat justru ini: Apakah negara mampu menunjukkan keteladanan moral ketika badai datang.
Rakyat biasanya tidak keberatan berhemat jika mereka melihat para pemimpinnya hidup dengan kesederhanaan yang sama.
Tetapi pengorbanan akan terasa pahit jika rakyat menyaksikan negara tetap berjalan dalam kemewahan.
Dalam tradisi kepemimpinan lama, sikap seperti itu memiliki satu nama yang hampir terlupakan hari ini: asketisme kekuasaan—kemampuan seorang pemimpin menahan dirinya sendiri sebelum ia meminta rakyat menahan hidup mereka.
Sejarah Islam pernah memberi contoh yang sangat terang melalui sosok Umar bin Abdul Aziz.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan