Ketika Negara Diminta Berhemat
Rakyat biasanya tidak keberatan berhemat jika mereka melihat para pemimpinnya hidup dengan kesederhanaan yang sama.
Editor:
Malvyandie Haryadi
Sebelum menjadi khalifah, ia dikenal sebagai bangsawan yang hidup mewah: pakaiannya indah, tubuhnya terawat, dan kehidupannya dikelilingi kenyamanan.
Namun setelah memegang kekuasaan, hidupnya berubah drastis.
Pakaiannya sederhana. Makanannya biasa. Bahkan lampu minyak milik negara tidak ia gunakan untuk urusan pribadinya.
Bagi Umar, kekuasaan bukanlah kemewahan yang harus dinikmati. Ia adalah amanah yang suatu hari akan ditanya oleh sejarah—dan oleh Tuhan.
Di situlah sebenarnya kita menemukan inti dari semua pembicaraan tentang krisis energi, geopolitik, dan penghematan negara.
Pada akhirnya rakyat memahami satu hal yang sangat sederhana: ketika badai datang, kapten kapal harus berdiri paling depan di geladak, merasakan angin yang sama kerasnya dengan para awak.
Bukan bersembunyi di kabin yang paling hangat.
Jika dunia benar-benar bergerak menuju masa yang lebih sulit, maka yang paling dibutuhkan oleh bangsa ini bukan hanya kebijakan ekonomi yang tepat.
Yang lebih penting adalah keteladanan dari mereka yang mengaku mengabdi kepada negara.
Karena dalam setiap krisis, rakyat sebenarnya tidak hanya menunggu keputusan pemerintah.
Mereka menunggu contoh.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan