Ayahnya yang tidak bisa berjalan setelah kecelakaan, mencari nafkah dengan mengendarai becak otomatis.
Pembatasan perjalanan menyebabkan ayah Kumari harus menjadi pengangguran baru di kawasan perkotaan India.
Sementara itu, pemilik kontrakan mereka terus menuntut uang sewa yang tidak bisa Kumari dan ayahnya penuhi.
Bahkan pemilik kontrakan tega mengancam mengusir ayah dan anak itu, cerita Kumari.
Nasibnya berakhir seperti para pekerja migran lainnya di India, kembali ke kampung halaman bagaimanapun caranya.
Alhasil Kumari memutuskan membeli sepeda untuk pulang bersama ayahnya.
Kumari mengayuh selama 10 hari sementara ayahnya ia bonceng duduk di belakang.
Selama perjalanan, Kumari dan ayahnya mencoba bertahan di bawah teriknya matahari dan suhu yang meningkat.
Keduanya bertahan hidup dengan makanan dan air yang diberikan orang asing.
Hanya sekali saja Kumari mengistirahatkan kakinya dengan menumpang di atas truk.
Baca: Sri Prakash Lohia, Pria asal India yang Sukses Jadi Orang Terkaya Ketiga di Indonesia
Baca: Penerbangan Domestik India akan Dibuka, Meski Infeksi Covid-19 Meningkat
Ayah dan anak itu tiba di desa mereka, Darbhanga di negara bagian Bihar, lebih dari seminggu yang lalu dan bergabung kembali dengan ibu dan saudara ipar Kumari yang juga meninggalkan ibu kota sejak lockdown diberlakukan.
Kumari adalah siswa kelas delapan SMP, dia pindah dari Desa Gurugram pada Januari untuk merawat ayahnya supaya tetap bertahan.
Dia mengatakan dia masih lelah selepas perjalanan.
"Itu adalah perjalanan yang sulit," katanya.
"Cuacanya terlalu panas, tetapi kami tidak punya pilihan. Saya hanya punya satu tujuan dalam pikiran saya, dan itu adalah untuk mencapai rumah," kata Kumari.
Sumber: Kompas.com/Tribunnew.com