Selain itu, Washington berencana mendorong isolasi diplomatik penuh melalui forum internasional dan Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB.
Rusia Pilih Bungkam
Hingga kini, Kremlin belum mengeluarkan komentar resmi terkait tenggat waktu 10–12 hari yang diberikan Trump.
Namun, Dmitry Medvedev mantan Presiden Rusia dan sekutu dekat Vladimir Putin menjadi pihak pertama yang merespons melalui unggahan di platform X.
Medvedev menilai Trump tengah “bermain di tepi jurang” karena menggunakan ultimatum terhadap Rusia.
Dalam pandangannya, pendekatan ini berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih besar, bukan hanya di Ukraina, tetapi juga berpotensi menyeret AS ke dalam konfrontasi langsung dengan Moskow.
Konflik antara AS dan Rusia memuncak sejak Presiden Putin melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022.
AS bersama negara-negara Barat langsung mengecam langkah Moskow yang dinilai melanggar kedaulatan negara tetangga.
Washington kemudian memimpin dukungan militer dan finansial besar-besaran kepada Kyiv untuk melawan agresi Rusia.
Bagi AS, Ukraina dianggap sebagai garis depan untuk menahan ekspansi pengaruh Rusia di Eropa Timur.
Sementara bagi Moskow, intervensi Barat di Ukraina dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Banyak pengamat menyebut hubungan AS–Rusia saat ini mirip dengan era Perang Dingin.
Persaingan bukan hanya terjadi di bidang militer, tetapi juga di ranah ekonomi, energi, dan diplomasi global.
Perbedaan ideologi dan kepentingan strategis kedua negara membuat konflik ini sulit diakhiri dalam waktu dekat.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan