News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pertemuan Cina-Korut: Sepakat Kerja Sama, Tak Bahas Nuklir

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pertemuan Cina-Korut: Sepakat Kerja Sama, Tak Bahas Nuklir

Kim Hyung Suk, mantan wakil menteri unifikasi Korea Selatan, menilai kunjungan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa Cina dan Korea Utara tetap menjalin kemitraan strategis.

"Isu denuklirisasi Korea Utara sengaja dihilangkan dari pembicaraan, sementara kerja sama politik, militer, dan ekonomi justru ditonjolkan," kata Kim.

Menuju poros Cina-Korea Utara?

Mantan juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Jeong Joon-hee, mengatakan kepada DW bahwa Pyongyang mungkin tengah berupaya memanfaatkan kekhawatiran Cina atas eratnya hubungan Korut-Rusia untuk mendapatkan pengakuan diam-diam atas statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.

Di saat yang sama, Beijing bisa memandang Korea Utara yang kian percaya diri sebagai mitra strategis yang lebih kuat ke depannya.

"Patut dicatat bahwa penguatan aliansi militer Cina-Korea Utara menawarkan keuntungan tersendiri," kata Jeong.

"Ini memungkinkan Korea Utara menggunakan kemampuan nuklirnya untuk menangkal AS jika terjadi krisis Taiwan. Secara ekonomi, ini mengamankan akses Cina ke Laut Jepang melalui Korea Utara, sekaligus mendorong pembangunan kawasan timur laut Cina," tambahnya.

Sementara, Han mencatat bahwa pernyataan-pernyataan resmi berulang kali menekankan "kerja sama strategis" dan koordinasi antara para pemimpin tertinggi kedua negara menjadi bahasa yang mengisyaratkan dimensi geopolitik yang lebih luas dibanding pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Apa keuntungan untuk Korea Utara?

"Bagi Korea Utara, membaiknya hubungan dengan Cina bisa memberikan keuntungan ekonomi dan diplomatik yang signifikan," kata Han.

"Pyongyang ingin menghindari ketergantungan eksklusif pada Rusia," ujarnya. "Dengan memperbaiki hubungan sekaligus dengan Beijing dan Moskow, Kim Jong Un bisa memaksimalkan daya tawar Korea Utara dan mengambil keuntungan dari kedua pihak."

Cina tetap menjadi mitra dagang terbesar Korea Utara dan sumber dukungan ekonomi yang krusial, meski sanksi internasional masih berlaku.

Kedua pihak sepakat tidak hanya untuk memperkuat pertukaran politik dan ekonomi, tetapi juga memperluas kerja sama di berbagai sektor, termasuk diplomasi dan koordinasi strategis, kata Jeong.

Ia menambahkan bahwa dukungan Pyongyang atas posisi Beijing soal Taiwan, dan dukungan Cina atas tujuan-tujuan kebijakan Korea Utara, menunjukkan bahwa kedua pemerintah semakin siap saling mendukung kepentingan inti masing-masing.

"Pembahasan ini mengindikasikan bahwa Cina dan Korea Utara sedang berupaya membangun kerangka kerja sama yang lebih luas, melampaui hubungan bilateral tradisional," kata Jeong.

Artikel in pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor Tezar Aditya Rahman

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini