News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Palestina Vs Israel

Dapat Dukungan Trump, Netanyahu Cengar-Cengir di Sidang Korupsi Usai Absen Sebulan

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NETANYAHU BERPIDATO - Foto ini diambil dari Faceboook PM Israel pada Minggu (15/6/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba di Pengadilan Distrik Tel Aviv dengan penampilan yang santai, ia tampak tersenyum meski menghadapi tiga kasus korupsi besar.

Ia seolah mengirim pesan bahwa Netanyahu tidak sendirian, sekaligus memperkuat narasi bahwa para pemimpin konservatif dunia sedang menjadi korban kriminalisasi politik.

Netanyahu Terseret Tiga Kasus Besar

Perdana Menteri zionis itu diketahui tengah terjerat tiga perkara besar yang dikenal sebagai Kasus 1000, 2000, dan 4000.

Ketiganya menjerat Netanyahu dengan tuduhan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan publik, tuduhan serius yang menjadikannya sebagai perdana menteri pertama dalam sejarah Israel yang diadili sebagai terdakwa pidana aktif.

Di mana dalam Kasus 1000, jaksa menuduh Netanyahu dan keluarganya menerima hadiah mewah dari pengusaha kaya asal Hollywood, Arnon Milchan, dan miliarder asal Australia, James Packer.

Hadiah tersebut berupa cerutu mahal, sampanye rosé, dan perhiasan bernilai ratusan ribu dolar AS.

Sebagai gantinya, Netanyahu diduga memberikan kemudahan politik dan akses istimewa kepada para pengusaha tersebut, termasuk dukungan terhadap kepentingan bisnis mereka di Israel.

Meski membenarkan menerima hadiah, Netanyahu bersikeras bahwa pemberian tersebut adalah “hadiah persahabatan”, bukan suap.

Kasus berikutnya, Kasus 2000, menjerat Netanyahu dalam dugaan tukar-menukar keuntungan politik dengan media nasional.

Dalam kasus ini, ia dituduh bernegosiasi dengan Arnon Mozes, penerbit harian terkemuka Yedioth Ahronoth.

Dalam pembicaraan yang bocor ke publik, Netanyahu disebut menjanjikan pembatasan terhadap koran pesaing, Israel Hayom media pro-Netanyahu jika Yedioth Ahronoth bersedia memberikan liputan positif terhadap dirinya.

Jaksa menilai, kesepakatan semacam itu merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi media untuk kepentingan politik pribadi.

Terakhir yakni Kasus 4000 yang dianggap paling serius. Dalam kasus ini, Netanyahu dituduh memberikan keuntungan regulasi bernilai jutaan dolar kepada Shaul Elovitch, pemilik perusahaan telekomunikasi raksasa Bezeq dan situs berita Walla! News.

Sebagai imbalannya, situs Walla! diduga memberikan liputan yang menguntungkan Netanyahu dan keluarganya, termasuk menurunkan berita negatif tentang lawan-lawan politiknya.

Jaksa menilai, tindakan itu jelas merupakan bentuk penyuapan, karena Netanyahu menggunakan kewenangannya sebagai perdana menteri untuk mengatur kebijakan bisnis demi kepentingan pribadi dan citra politiknya.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini