Para sukarelawan muda ini akan mengenakan seragam militer selama 10 bulan dan bertugas di wilayah daratan maupun wilayah luar negeri Prancis, namun tidak dalam operasi tempur di luar negeri, ujar Macron dalam pidatonya di pangkalan militer Varces di Pegunungan Alpen Prancis.
“Dinas nasional baru akan dibentuk secara bertahap mulai musim panas ini,” kata Macron.
“Di dunia yang penuh ketidakpastian, di mana kekuasaan mengalahkan hukum dan perang selalu menjadi ancaman, bangsa kita tidak boleh takut, panik, tidak siap, atau terpecah.”
Program ini akan dimulai dengan 3.000 pemuda yang akan diseleksi musim panas mendatang, lalu meningkat menjadi 10.000 per tahun pada 2030.
Prancis menargetkan hingga 50.000 relawan per tahun pada 2035, angka yang dapat disesuaikan sesuai perkembangan global, tambah Macron.
Para sukarelawan akan berstatus militer dan menerima gaji serta perlengkapan.
Setelah satu bulan pelatihan, mereka menjalani sembilan bulan tugas di unit tertentu dan melakukan misi yang sama dengan personel aktif.
Setelah masa penugasan, mereka akan masuk cadangan militer sambil melanjutkan pendidikan atau bekerja.
Mereka yang berminat dapat melanjutkan ke karier militer penuh waktu.
Tentara reguler Prancis umumnya mendaftar untuk durasi 2–10 tahun yang bisa diperpanjang.
Wajib militer yang dihentikan sejak 1996 tidak dipertimbangkan kembali.
Hanya dalam “keadaan luar biasa” parlemen dapat mengizinkan mereka yang keterampilannya teridentifikasi dalam kursus pertahanan satu hari untuk direkrut secara wajib, kata Macron.
Jenderal (Purn) Jean-Paul Paloméros, mantan Kepala Angkatan Udara Prancis, mengatakan pelatihan ribuan relawan muda akan menekan sumber daya militer yang sudah terbatas, namun tetap menilai program ini penting untuk mempersiapkan Prancis menghadapi ancaman masa depan.
“Ini langkah baik, meski tidak mudah,” ujarnya dalam wawancara.
“Namun program ini diperlukan agar generasi muda memahami bahwa kebebasan dan perdamaian tidak datang begitu saja.”
4. Putin melihat rencana perdamaian AS sebagai titik awal saat ia memperingatkan tentara Ukraina untuk mundur
Proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina dapat menjadi titik awal perundingan, ujar Presiden Rusia Vladimir Putin, sembari mengimbau pasukan Ukraina untuk mundur atau menghadapi serangan besar-besaran dari pasukan Rusia.
“Kita perlu duduk dan membahas ini dengan serius,” kata Putin kepada wartawan di akhir kunjungan tiga hari ke Kirgistan. “Setiap kata penting.”
Ia menggambarkan rencana Presiden AS Donald Trump sebagai serangkaian isu untuk dibahas, bukan sebuah rancangan kesepakatan.
“Jika pasukan Ukraina mundur dari wilayah yang mereka duduki, permusuhan akan berhenti. Jika tidak, kami akan melakukannya dengan paksa,” tegasnya.
Kremlin sebelumnya tidak banyak mengomentari rencana perdamaian tersebut.
Sejak invasi dimulai, Putin tidak menunjukkan sinyal untuk mengalah dari tujuannya, meski Trump mendesak penyelesaian.
Putin menegaskan Ukraina harus menarik diri sepenuhnya dari Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhia, termasuk area yang tidak dikuasai Rusia.
Ia juga ingin mencegah Ukraina bergabung dengan NATO agar Moskow bisa mengembalikan negara itu ke orbitnya.
Kremlin mengatakan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dijadwalkan mengunjungi Moskow minggu depan.
Sementara Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll, yang memainkan peran penting dalam pembicaraan perdamaian, kemungkinan akan menuju Kyiv.
Proposal awal AS dinilai sangat condong ke kompromi yang diinginkan Rusia, namun versi amandemen muncul dari perundingan di Jenewa antara pejabat AS dan Ukraina.
Pemimpin Eropa, yang khawatir pada keamanan mereka di tengah agresi Rusia, kini mendorong keterlibatan lebih besar.
5. Jenderal dilantik sebagai pemimpin baru Guinea-Bissau, presiden terguling tiba di Senegal
Militer Guinea-Bissau melantik Mayor Jenderal Horta Inta-a sebagai presiden transisi pada hari Kamis (27/11/2025), sehari setelah tentara menggulingkan pemerintahan sipil dalam perebutan kekuasaan yang terjadi cepat menjelang pengumuman hasil pemilu akhir pekan.
Presiden yang digulingkan, Umaro Sissoco Embalo, tiba di Senegal dengan penerbangan khusus setelah intervensi blok regional Afrika Barat, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Senegal.
Kudeta ini merupakan yang kesembilan di Afrika Barat dan Tengah dalam lima tahun terakhir, memperpanjang rangkaian ketidakstabilan di Guinea-Bissau, negara yang dikenal sebagai pusat transit kokain dan memiliki sejarah panjang intervensi militer dalam politik.
“Komando Militer Tinggi untuk Pemulihan Ketertiban”, yang menamakan diri mereka, mengumumkan dalam siaran televisi pada Rabu bahwa mereka merebut kekuasaan dari Embalo, dan menyebut tindakan itu sebagai respons terhadap rencana destabilisasi yang melibatkan politisi dan bandar narkoba, tanpa memberikan rincian.
Dalam penampilan publik pertamanya, Inta-a, dengan mengenakan seragam militer dan diapit sejumlah pejabat, mengatakan kudeta diperlukan untuk mencegah para pengedar narkoba merebut demokrasi Guinea.
Ia mengatakan masa transisi akan berlangsung selama satu tahun, dimulai segera.
Dalam pelantikan Kamis malam, ia menunjuk Mayor Jenderal Tomas Djassi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.
Pengambilalihan ini terjadi sehari sebelum hasil sementara pemilu diumumkan, di mana Embalo bersaing dengan Fernando Dias, pendatang baru berusia 47 tahun yang menjadi penantang utama.
Baca juga: Ukraina Revisi Rencana Perdamaian AS, Gedung Putih Bantah Donald Trump Berpihak ke Vladimir Putin
Sebelum kudeta diumumkan, baku tembak terjadi di ibu kota Bissau selama sekitar satu jam di dekat kantor komisi pemilu dan istana presiden.
Embalo menelepon media Prancis untuk mengonfirmasi bahwa ia telah digulingkan.
Dalam pernyataan militer tertanggal Kamis, sebelum Senegal mengumumkan evakuasi Embalo, disebutkan bahwa Embalo dan sejumlah pejabat tinggi berada di bawah kendali Komando Militer Tinggi.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan