Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Zelenskyy siap menandatangani dokumen yang berakhir dengan penyelesaian perang dengan Rusia.
- Zelenskyy akan bertemu dengan para pemimpin Eropa pada awal Januari 2026.
- Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.407 saat Ukraina mencari dukungan Eropa dan AS untuk mengakhiri perang dan mendapat jaminan keamanan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa beberapa dokumen yang bertujuan untuk menyelesaikan perang, yang dikembangkan selama proses negosiasi, akan siap ditandatangani pada bulan Januari.
"Kami mengusulkan ini: para penasihat bertemu pada bulan Januari, para pemimpin bertemu pada bulan Januari," kata Zelenskyy saat konferensi daring pada Selasa (30/12/2025).
"Kami percaya Januari menawarkan kemungkinan bagi para pemimpin Eropa, Amerika Serikat, dan Ukraina untuk bertemu bersama. Ada dokumen-dokumen yang pasti akan siap pada bulan Januari untuk ditandatangani," lanjutnya.
Zelenskyy tidak menyebutkan dokumen-dokumen tersebut secara spesifik.
Dia mengatakan bahwa sekarang tergantung pada kemampuan dan kemauan para pihak untuk menandatangani.
"Saya tidak takut dengan format pertemuan kita. Yang terpenting adalah Rusia tidak takut (untuk bertemu)," ujarnya, lapor Pravda.
Dia mengatakan bahwa dia telah menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin Eropa mengenai kesiapannya untuk segala format pertemuan dengan Putin.
Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung selama 1.407 hari pada Rabu (31/12/2025).
Perang Rusia–Ukraina bermula dari invasi militer skala besar yang dilancarkan Rusia ke wilayah Ukraina pada 24 Februari 2022.
Akar konflik kedua negara ini berawal dari ketegangan geopolitik pasca runtuhnya Uni Soviet, ketika Rusia dan Ukraina muncul sebagai negara merdeka.
Baca juga: Rusia Minta Ukraina Mundur dari Donbas jika Ingin Perang Segera Berakhir
Sejak saat itu, Ukraina secara bertahap menjalin hubungan lebih dekat dengan negara-negara Barat serta menyatakan minat untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, langkah yang dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanannya.
Situasi kian memanas setelah Revolusi Maidan pada 2014 yang menggulingkan presiden Ukraina yang dianggap pro-Rusia.
Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.
Meski berbagai upaya diplomasi internasional telah dilakukan, konflik antara Rusia dan Ukraina tidak pernah benar-benar mereda.
Ketegangan tersebut akhirnya memuncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer ke Ukraina pada Februari 2022.
Putin menyebut langkah itu sebagai “operasi militer khusus”, dengan alasan melindungi warga di Donbas, mencegah ancaman keamanan dari Ukraina, serta menentang perluasan NATO ke kawasan Eropa Timur.
Sebagai respons atas invasi tersebut, negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Rusia dan meningkatkan dukungan militer serta bantuan ekonomi kepada Ukraina.
Perang tersebut masih berlangsung dengan AS berupaya menengahi perundingan keduanya.
Berikut ini berita terbaru terkait perkembangan perang Rusia dan Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber.
-
Rusia Serang Pelabuhan di Laut Hitam
Angkatan laut Ukraina melaporkan bahwa Rusia melancarkan serangan drone dalam jumlah besar untuk menyerang pelabuhan Pivdennyi dan Chornomorsk di Laut Hitam.
Dua kapal sipil terkena serangan saat tiba untuk memuat gandum, menurut keterangan pejabat pemerintah Ukraina.
"Kapal sipil berbendera Panama, Emmakris III dan Captain Karam, terkena serangan. Serangan itu mengancam nyawa warga sipil dan merusak ketahanan pangan global," kata angkatan laut Ukraina, Selasa.
-
Zelenskyy: Tuduhan Rusia Soal Serangan di Kediaman Putin Adalah Palsu
Presiden Ukraina Zelenskyy membantah tuduhan Rusia yang mengatakan ada serangan di kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin pada tanggal 28-29 Desember 2025.
“Mengenai serangan terhadap (kediaman Putin di) Valdai , tim negosiasi kami yang terhubung dengan tim Amerika, mereka telah meneliti detailnya, dan kami memahami bahwa itu palsu . Dan, tentu saja, mitra kami selalu dapat memverifikasi berkat kemampuan teknis mereka bahwa itu palsu," kata Zelenskyy.
Sebuah sumber kepresidenan Prancis mengatakan serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap Ukraina adalah "tindakan pembangkangan" terhadap rencana AS untuk mengakhiri perang Ukraina.
"Selain itu, tuduhan Rusia tentang serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap kediaman Putin tidak didukung oleh bukti konkret apa pun, termasuk setelah melakukan pengecekan silang informasi dengan mitra kami," kata sumber tersebut, lapor The Guardian.
-
Ukraina Serang Pelabuhan Rusia di Laut Hitam
Pemerintah Rusia di Laut Hitam mengatakan adanya serangan pesawat tak berawak Ukraina merusak infrastruktur pelabuhan dan pipa gas di pelabuhan Tuapse, Laut Hitam Rusia.
Tidak ada korban luka yang dilaporkan.
Tuapse dan kilang minyaknya merupakan salah satu jalur utama Laut Hitam Rusia untuk produk minyak yang menjadi target Ukraina karena diekspor untuk membiayai perang atau digunakan langsung untuk memasok energi bagi militer Rusia.
Pelabuhan dan kilang minyak tersebut telah berulang kali menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak Ukraina.
-
Zelenskyy akan Bertemu Sekutunya di Prancis
Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan Ukraina akan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin sekutu Kyiv pada Selasa, 6 Januari mendatang, di Prancis.
"Hari ini tim kami berkomunikasi, dan sekarang kami telah membahas dengan Rustem langkah-langkah dan poin-poin penting selanjutnya dalam negosiasi," tulis Zelensky di Telegram.
Zelensky kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa putaran konsultasi penasihat tambahan juga akan berlangsung pada tanggal 7 Januari untuk menyelesaikan langkah-langkah terakhir.
Rencana pertemuan itu muncul seiring dengan intensifikasi upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.
Pertemuan puncak tersebut akan didahului oleh pertemuan para penasihat keamanan mereka, yang direncanakan pada Sabtu, 3 Januari mendatang, di Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan