News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Amerika Versus Venezuela

Nicolas Maduro Sudah Prediksi Serangan Amerika dalam Wawancara 2019: AS Bersedia Perang demi Minyak

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PEREBUTAN MINYAK VENEZUELA - Tangkap layar ABC News, memperlihatkan Pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah wawancara pada tahun 2019. Dalam wawancara itu, Maduro menyebut bahwa AS bersedia melancarkan perang demi minyak.


TRIBUNNEWS.COM – Militer Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1/2026), lalu membawa keduanya ke Amerika Serikat untuk diadili.

Pria berusia 63 tahun itu, didakwa atas tuduhan terorisme narkoba dan korupsi di pengadilan federal New York. Jaksa pemerintah menyebut, dugaan kejahatan tersebut telah berlangsung selama 25 tahun.

Dalam persidangan yang digelar pada Senin (5/1/2026), Maduro menyatakan tidak bersalah.

Namun, jauh sebelum penangkapannya, Maduro telah memperingatkan potensi konflik dengan Amerika Serikat.

Dalam sebuah wawancara dengan ABC News pada awal 2019, ia mengatakan telah bersiap menghadapi perang dengan AS demi minyak negaranya.

Maduro juga menuduh pemerintah AS berusaha merekayasa krisis untuk meningkatkan konflik militer di kawasan Amerika Selatan.

“Amerika Serikat menginginkan minyak dari Venezuela dan bersedia berperang demi minyak,” kata Maduro kepada ABC News dalam wawancara yang dilakukan di Istana Kepresidenan di Caracas.

Saat itu, Maduro tengah menghadapi gelombang protes massal di seluruh Venezuela yang dipimpin oleh tokoh oposisi yang didukung AS, Juan Guaido.

Aksi tersebut, terjadi di tengah krisis ekonomi dan kemanusiaan yang semakin memburuk, termasuk kelangkaan makanan dan obat-obatan serta pemadaman listrik bergilir.

Setelah penggerebekan pada Sabtu lalu, Presiden AS Donald Trump kerap berbicara tentang rencana mengekstraksi dan menjual minyak Venezuela, serta menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola negara tersebut.

Meski demikian, para pejabat di pemerintahan Trump bersikeras bahwa penangkapan Maduro merupakan operasi penegakan hukum.

Wawancara pada 2019 itu berlangsung sekitar setahun sebelum Maduro pertama kali didakwa di Distrik Selatan New York.

Baca juga: Suasana di Caracas Ibu Kota Venezuela Setelah Presiden Maduro Ditangkap AS, Toko-toko Tutup

Dalam wawancara tersebut, Maduro tidak menyebutkan apakah ia mengetahui sedang diselidiki atas kasus terorisme narkoba, dan tidak memberi isyarat bahwa dirinya akan segera didakwa.

“Mereka selalu mengarang dalih, selalu mengarang alasan,” kata Maduro merujuk pada Amerika Serikat.

“Untuk menyerang Irak, mereka mengarang adanya senjata pemusnah massal, dan kemudian menjadi memalukan ketika diketahui bahwa itu semua bohong; itu hanya dalih,” ujarnya.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini