TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.438 pada Sabtu (31/1/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy khawatir meningkatnya ketegangan terkait kemungkinan serangan AS terhadap Iran berpotensi menimbulkan ketidakpastian baru bagi upaya perdamaian untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina yang berlangsung sejak 2022.
Para pejabat senior Ukraina dan Rusia dikabarkan akan melanjutkan perundingan pada Minggu, 1 Februari 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).
Namun, memanasnya kabar mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Iran baru-baru ini dikhawatirkan akan berdampak pada rencana pertemuan tersebut.
“Tanggal atau lokasinya mungkin berubah,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada wartawan dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya, Jumat (30/1/2026).
“Dari sudut pandang kami, sesuatu sedang terjadi dalam situasi antara Amerika Serikat dan Iran, dan perkembangan tersebut dapat memengaruhi waktunya,” jelasnya.
Presiden Ukraina berharap semua pihak dapat menghadiri pertemuan itu.
“Sangat penting bagi kami bahwa semua orang yang telah kami sepakati hadir dalam pertemuan ini, karena semua orang mengharapkan umpan balik,” kata Zelenskyy.
Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah pembicaraan trilateral langsung pertama antara Rusia, AS, dan Ukraina di Abu Dhabi.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner menghadiri pertemuan trilateral pertama tersebut, tapi Witkoff dikabarkan tidak akan hadir pada pertemuan lanjutan minggu ini.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengancam Iran untuk melanjutkan perundingan perjanjian nuklir, seraya mengirimkan sinyal opsi militer dengan mengerahkan armada besar yang dipimpin USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah.
Baca juga: Rusia Undang Zelenskyy ke Moskow untuk Bahas Perdamaian dengan Putin
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina meletus secara terbuka pada 24 Februari 2022, ditandai dengan peluncuran operasi militer besar-besaran oleh Rusia ke sejumlah wilayah Ukraina. Serangan tersebut menjadi puncak dari eskalasi ketegangan yang telah berlangsung lama, seiring memburuknya hubungan bilateral kedua negara di bidang politik, keamanan, dan geopolitik kawasan.
Akar konflik dapat ditelusuri sejak bubarnya Uni Soviet, yang melahirkan Rusia dan Ukraina sebagai negara merdeka dengan orientasi kebijakan berbeda. Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke Barat melalui kerja sama politik, ekonomi, dan pertahanan dengan Eropa serta Amerika Serikat.
Upaya Kyiv untuk mempererat hubungan dengan NATO dan Uni Eropa dipersepsikan Moskow sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis dan keamanan nasional Rusia. Ketegangan mencapai titik krusial pada 2014, ketika Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara militer Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.
Sejumlah inisiatif diplomasi internasional sempat diupayakan untuk meredakan konflik, namun gagal menghasilkan penyelesaian jangka panjang. Situasi terus memburuk hingga Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Moskow menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melindungi warga di Donbas, menjaga stabilitas keamanan nasional, serta menentang perluasan pengaruh NATO di Eropa Timur.
Baca tanpa iklan