Zelenskyy mengatakan, teknologi dan kapasitas produksi yang dikumpulkan oleh Rusia sebagian merupakan warisan dari seluruh Uni Soviet.
Ia juga mengingatkan kembali pilihan Ukraina untuk melepaskan persenjataan nuklirnya yang diwarisi dari Uni Soviet kepada Rusia selama 1994–1996, sebagai bagian dari proses denuklirisasi yang diputuskan setelah kemerdekaan negara itu.
"Pengetahuan, teknologi, dan perusahaan yang mereka miliki merupakan perjalanan panjang yang telah ditempuh seluruh Uni Soviet, termasuk Ukraina dan Ukraina dalam segala keberagamannya. Ukraina patriotik dan ada banyak pengkhianat," katanya, seperti diberitakan Pravda.
Presiden Ukraina menyayangkan penyerahan senjata nuklirnya terhadap Rusia, yang menurutnya dapat menjadi salah satu jaminan keamanan negaranya.
"Hal yang sama terjadi dengan teknologi yang diwariskan. Tidak hanya pesawat yang dipotong-potong, tetapi teknologi dan senjata juga diserahkan dan sebagainya. Kolchuga diberikan, semuanya dijual dan senjata nuklir diserahkan. Apakah kita mendukung perang nuklir? Tidak. Tetapi negara nuklir mana yang saat ini berada di bawah pendudukan? Tidak ada. Itulah intinya," katanya.
Meski telah melepas persenjataan nuklirnya di masa lalu, Zelenskyy menegaskan negaranya tetap harus berkembang.
"Apakah kita harus membalas dengan cara yang sama? Kita harus. Tetapi apakah kita memiliki skala yang sama dengan Rusia? Tidak – mereka mewarisi semuanya dari zaman Soviet. Kita tidak memiliki itu, namun kita terus berkembang. Dan kita berkembang secara eksponensial," tambah Zelenskyy.
Sejak 14 Januari 2026, atas instruksi Zelensky, Ukraina memberlakukan keadaan darurat di sektor energi di tengah serangan Rusia dan memburuknya kondisi cuaca pada musim dingin.
Pada malam tanggal 7 Februari, tentara Rusia melancarkan serangan besar-besaran lainnya ke Ukraina, menggunakan drone serang, rudal udara, darat, dan laut, yang menghantam total 447 target udara.
Target utama serangan itu adalah fasilitas energi dan infrastruktur penting di wilayah Lviv, Ivano-Frankivsk, Rivne, dan Vinnytsia. Pasukan pertahanan udara berhasil menetralisir 24 rudal dan 382 drone.
Perang Rusia-Ukraina
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Serangan ini menjadi puncak dari ketegangan panjang yang dipicu persaingan politik, keamanan, dan geopolitik di Eropa Timur.
Akar konflik bermula sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, ketika Ukraina dan Rusia berkembang dengan orientasi kebijakan yang kian berlawanan.
Ukraina kemudian mempererat hubungan dengan Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat, serta menyatakan keinginan bergabung dengan NATO.
Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan dan keamanan nasionalnya.
Ketegangan memuncak pada 2014 dengan pencaplokan Krimea oleh Rusia dan pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas.
Baca tanpa iklan