TRIBUNNEWS.COM - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai berdampak langsung pada sektor pariwisata global.
Hal ini terlihat dari fenomena 5.000 turis yang dilaporkan terjebak di Bandara Internasional Phuket, Thailand, menyusul pembatalan penerbangan massal yang melanda berbagai hub penerbangan utama dunia.
Kabar tersebut dikonfirmasi langsung oleh Presiden Dewan Pariwisata Phuket, Rangsiman Kingkaew.
Dikutip dari Bangkok Post, Rangsiman melaporkan bahwa hingga Senin (2/3/2026), pihaknya mencatat lebih dari 5.000 turis terdampar di Phuket akibat pembatalan sedikitnya 30 penerbangan.
Rangsiman menjelaskan bahwa warga asing yang menggunakan rute penerbangan dari Timur Tengah menuju Phuket mencakup sekitar 10 persen dari total kedatangan harian di wilayah tersebut.
Hingga Senin, Rangsiman juga mengaku pihaknya telah mencatat lebih dari 5.000 turis terdampar di Phuket akibat 30 penerbangan dibatalkan.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa para turis praktis tidak memiliki jalan keluar karena sebagian besar penerbangan via Bangkok sudah penuh dipesan di tengah musim liburan.
Kondisi krisis ini juga dikhawatirkan merembet ke wilayah terdekat lainnya seperti di Samui
Hal ini diutarakan oleh Wakil Presiden TCT, Ratchaporn Poolsawadee yang memperkirakan lebih dari 1.000 turis akan memperpanjang masa tinggal mereka akibat rangkaian pembatalan penerbangan ini.
Adapun Ratchaporn menyebut sebagian besar wisatawan yang terdampak berasal dari Timur Tengah, Israel, Eropa, dan Amerika Serikat.
Selain membahas akomodasi turis yang terdampar, Pihak TCT juga berkoordinasi dengan Biro Imigrasi Thailand untuk membantu wisatawan yang terancam melampaui masa berlaku visa (overstay).
Baca juga: 519.042 WNI Berada di Kawasan Timur Tengah, Kemlu RI: Perlindungan Jadi Prioritas Utama
Penyebab Turis Terdampar kian Membludak
Meningkatnya jumlah wisatawan yang terjebak ini terjadi lantaran gelombang pembatalan penerbangan jarak jauh yang menggunakan titik transit di Timur Tengah oleh grup tur dan maskapai terkait.
Akibat situasi keamanan yang tidak menentu di kawasan Timur Tengah setelah serangan antara Iran dan AS-Israel, banyak instansi terkait yang kemudian membatalkan seluruh perjalanan di bulan Maret demi menghindari terbang melintasi zona perang.
Baca tanpa iklan