Hal ini bisa dilihat dari pembatalan penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai besar antara Timur Tengah dan Thailand seperti armada Thai AirAsia X yang memiliki rute penerbangan menuju Riyadh, Arab Saudi.
Sejumlah pemangku sektor pariwisata publik dan swasta Thailand pun tengah berupaya memberikan bantuan kepada ribuan wisatawan yang terdampar di berbagai kota besar.
Komitmen ini disampaikan oleh Adith Chairattananon selaku Sekretaris Jenderal Kehormatan Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (ATTA).
Dikutip dari Bangkok Post, Adith menyatakan bahwa Bangkok, Phuket, dan Samui menjadi titik utama berkumpulnya wisatawan di Thailand yang tidak dapat pulang ke negara asal mereka.
Ia menambahkan bahwa pihak asosiasi tengah membantu anggotanya untuk berkoordinasi dengan hotel dan pihak berwenang terkait guna menyediakan akomodasi bagi para pelancong sembari menunggu kejelasan jadwal penerbangan.
Menurut Adith, pemesanan dari pasar jarak jauh yang menggunakan transit di Timur Tengah telah dibatalkan sepenuhnya.
Kebijakan ini pun membuat angka wisatawan yang terdampar di Thailand membludak mengingat rute penerbangan tersebut mencakup sekitar 50 persen dari seluruh perjalanan jarak jauh ke Thailand.
Jika konflik terus berlanjut, para operator khawatir sentimen perjalanan akan terus terdampak hingga festival Songkran bulan depan.
Langkah Darurat Instansi Pariwisata Thailand
Baca juga: Konflik AS-Israel vs Iran, Anggota Komisi I DPR Ungkap Kondisi Terkini WNI di Timur Tengah
Sejak hari Minggu, berbagai asosiasi perhotelan dan pariwisata, termasuk Asosiasi Bisnis Pariwisata Phangnga, Asosiasi Hotel Krabi, dan Asosiasi Turis Phuket, telah meluncurkan langkah-langkah darurat.
Dewan Pariwisata Thailand (TCT) juga secara resmi meminta kerja sama para anggotanya untuk memastikan Thailand tetap menjadi destinasi yang aman dan berkualitas.
Hal ini diungkapkan Presiden TCT, Chai Arunanondchai, dalam surat resminya yang dirilis pada Senin (2/3.2026)
"Sebagai perwakilan dari operator swasta, kami menyadari bahwa situasi ini berada di luar kendali kami. Namun, hal ini dapat menghambat kepercayaan wisatawan mancanegara jika tidak dikelola dengan benar," ungkap Chai.
Langkah bantuan yang diberikan meliputi penghapusan biaya penjadwalan ulang bagi turis, penghapusan biaya pembatalan jika terdapat bukti gangguan penerbangan, serta penawaran tarif kamar khusus bagi pelancong yang harus memperpanjang masa tinggal mereka.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan