“Tidak perlu khawatir tentang Mesir. Tidak ada yang berani menyentuh negara ini,” kata Sisi dalam sebuah acara publik saat ketegangan regional meningkat.
Selain risiko keamanan, perang Iran juga mulai memukul ekonomi Mesir.
Pemerintah Mesir menyatakan negara itu berada dalam kondisi “hampir darurat ekonomi” akibat gejolak kawasan yang memicu kenaikan harga energi, pelemahan mata uang, serta gangguan jalur perdagangan global, dikutip dari Arab news.
Konflik juga berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran di Terusan Suez yang merupakan salah satu sumber devisa terbesar Mesir.
Beberapa perusahaan pelayaran internasional bahkan mulai mengalihkan rute kapal dari kawasan Timur Tengah untuk menghindari risiko konflik.
Mesir Berupaya Menjadi Penengah
Di tengah ketegangan yang meningkat, Mesir berusaha memainkan peran diplomatik untuk meredakan konflik.
Pemerintah di Kairo menyerukan penghentian perang dan menawarkan diri menjadi mediator dalam upaya menghentikan eskalasi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Namun para analis menilai posisi Mesir berada dalam situasi sulit. Jika Iran kalah, Israel bisa menjadi kekuatan dominan di kawasan. Sebaliknya, jika Iran bertahan atau menang, jaringan sekutunya di Timur Tengah juga berpotensi semakin kuat.
Karena itu, bagi Mesir, konflik Iran–Israel tidak hanya soal perang antarnegara, tetapi juga pertarungan yang dapat menentukan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dalam jangka panjang.
Baca tanpa iklan