TRIBUNNEWS.COM - Uni Eropa mulai mendorong kebijakan penghematan energi secara luas, termasuk anjuran bekerja dari rumah (work from home/WFH), di tengah krisis energi global yang semakin memburuk akibat konflik di Timur Tengah.
Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, menyatakan bahwa situasi energi saat ini tidak akan segera pulih, bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat.
"Bahkan jika perdamaian hadir besok, kita tetap tidak akan kembali normal dalam waktu dekat," kata Dan Jorgensen sebagaimana dikutip dari Anadolu.
"Semakin banyak yang dapat Anda lakukan untuk menghemat minyak - terutama solar dan bahan bakar jet - semakin baik keadaan kita," imbuhnya.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan darurat para menteri energi Uni Eropa yang digelar guna membahas krisis energi akibat eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran, Rabu (1/4/2026).
Pasca AS dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu, Garda Revolusi Iran (IRGC) mulai memperketat jalur perdagangan minyak dunia Selat Hormuz.
Pada awalnya, pembatasan hanya dilakukan untuk memukul balik serangan AS, namun gangguan pada jalur ini membuat distribusi energi global terganggu.
Penutupan jalur tersebut menyebabkan pasokan minyak tersendat dan harga energi melonjak drastis.
Dampaknya langsung dirasakan negara-negara Eropa yang sangat bergantung pada impor minyak Timur Tengah khususnya Iran.
Dimana harga gas di Uni Eropa tercatat mengalami kenaikan hingga 70 persen sementara harga minyak meningkat 60 persen sejak awal konflik terjadi di kawasan Timur Tengah.
Alasan ini mendorong Uni Eropa untuk menerapkan langkah-langkah konkret termasuk menganjurkan kebijakan bekerja WFH, tak hanya itu pemerintah di kawasan Eropa meminta masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum.
Bahkan masyarakat juga dianjurkan untuk berbagi kendaraan atau carpooling, serta menerapkan gaya berkendara yang lebih efisien guna mengurangi konsumsi bahan bakar secara keseluruhan.
Baca juga: Bos AirAsia Jamin Tarif Maskapainya Tetap Terjangkau meski Ada Krisis BBM
Langkah ini dinilai sebagai cara cepat untuk menekan konsumsi bahan bakar, terutama di sektor transportasi yang menjadi salah satu penyumbang terbesar penggunaan energi.
Asia Lebih Dulu Terapkan WFH
Sebelum Eropa, sejumlah negara di Asia telah lebih dulu mengambil langkah serupa untuk menghadapi krisis energi.
Di Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengumumkan kebijakan WFH bagi aparatur sipil negara mulai 15 April guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Baca tanpa iklan