Jaksa menyebut kapal juga mengalami dua kali pemadaman listrik sehari sebelum tragedi, namun masalah tersebut tidak dilaporkan kepada Penjaga Pantai AS sebagaimana diwajibkan aturan keselamatan maritim.
Baca juga: Usai Tertabrak Kapal Kargo, Rangka Jembatan Baltimore AS Dibongkar Pakai Bahan Peledak
Selain itu, perusahaan dituding memalsukan catatan keselamatan serta memberikan informasi menyesatkan kepada penyelidik federal.
Jimmy Paul dari FBI Baltimore menyebut tragedi itu seharusnya tidak pernah terjadi.
“Jembatan itu runtuh karena mereka yang bertanggung jawab atas pengoperasian kapal secara sengaja mengabaikan prosedur keselamatan,” kata Jimmy Paul.
Jaksa juga menuduh perusahaan mencoba menyembunyikan penggunaan pompa bahan bakar yang tidak sesuai standar di kapal Dali maupun kapal lain yang serupa.
Selain dakwaan pidana utama, Synergy Marine juga dituduh melanggar Undang-Undang Air Bersih dan Undang-Undang Pencemaran Minyak akibat puing jembatan, minyak, dan kontainer kapal yang mencemari Sungai Patapsco.
Synergy Marine Bantah Seluruh Tuduhan
Menanggapi dakwaan tersebut, Synergy Marine membantah telah melakukan pelanggaran pidana.
Perusahaan menuduh pemerintah AS mengubah kecelakaan maritim menjadi perkara kriminal.
“Departemen Kehakiman mengkriminalisasi kecelakaan tragis,” kata Synergy Marine dalam pernyataan kepada BBC.
Perusahaan juga menegaskan akan melawan seluruh tuduhan di pengadilan.
“Synergy akan membela diri secara gigih terhadap tuduhan yang tidak akurat ini,” lanjut pernyataan tersebut.
Pengacara Radhakrishnan Karthik Nair bahkan mengatakan kliennya “tidak menyebabkan kecelakaan tersebut” meski terus memikirkan tragedi itu setiap hari.
Baca juga: Biden Siap Gelontorkan Dana Darurat Rp 952 M untuk Bangun Kembali Jembatan Baltimore
Kerugian Ekonomi dan Lingkungan Capai Miliaran Dolar
Runtuhnya Jembatan Francis Scott Key menyebabkan Pelabuhan Baltimore lumpuh selama hampir tiga bulan.
Sky News melaporkan dampaknya mengganggu distribusi barang nasional dan memukul ekonomi Maryland secara besar-besaran.
Pemerintah negara bagian Maryland memperkirakan biaya pembangunan kembali jembatan mencapai 4,3 hingga 5,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp84 triliun.
Jembatan baru bahkan diperkirakan belum dapat dibuka sebelum tahun 2030.
Baca tanpa iklan