TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan ultimatum keras kepada pemerintah Inggris dan Prancis tentang rencana pengerahan kapal perang ke Selat Hormuz.
Pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap kehadiran kapal perang asing di jalur pelayaran strategis tersebut akan dianggap sebagai bentuk eskalasi militer dan dapat memicu respons cepat dari angkatan bersenjata Iran.
Peringatan itu muncul setelah Inggris mengumumkan kesiapan mengirim kapal perang untuk mendukung misi internasional pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang belakangan menjadi pusat ketegangan dunia.
Dalam keterangan resmi yang dikutip media IranWire, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa pengerahan kapal perang Inggris maupun Prancis ke kawasan tersebut akan mendapat “tanggapan tegas dan segera” dari militer Iran.
Melalui unggahannya di media sosial X, Gharibabadi menilai pengerahan kapal-kapal militer asing dengan dalih menjaga keamanan pelayaran justru berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk Persia.
Menurut Iran, langkah negara-negara Barat itu bukan semata misi perlindungan jalur perdagangan internasional, melainkan bentuk militerisasi di salah satu jalur laut paling strategis di dunia yang dapat memicu konflik lebih besar di Timur Tengah.
Iran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz bukan wilayah yang dapat dikendalikan oleh negara-negara di luar kawasan.
Pemerintah di Teheran menyebut pengaturan keamanan dan hukum jalur pelayaran tersebut merupakan hak negara-negara pantai, termasuk Iran sebagai salah satu pihak utama di kawasan Teluk Persia.
HMS Dragon dan Jet Tempur Inggris Bergerak
Meski mendapat kecaman keras dari Iran, Kementerian Pertahanan Inggris nekat melanjutkan rencana pengerahan sejumlah alutsista modern ke Timur Tengah sebagai bagian dari misi pengamanan jalur pelayaran internasional.
Selain mengirim kapal perusak HMS Dragon milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, London juga menyiapkan sistem anti-drone, kapal pemburu ranjau tanpa awak, hingga jet tempur Typhoon untuk memperkuat operasi di kawasan strategis tersebut.
"Inggris akan mengerahkan peralatan pemburu ranjau otonom dan sistem anti-drone canggih, bersama dengan jet Typhoon dan HMS Dragon, sebagai bagian dari misi pertahanan masa depan untuk mengamankan kebebasan navigasi di Selat Hormuz," kata Kemhan Inggris.
Baca juga: Mulai Misi Militer di Selat Hormuz, Inggris Kirim Drone, Jet Tempur, dan Kapal Perang
Pemerintah Inggris menyebut pengerahan itu merupakan bagian dari misi multinasional bersama Prancis guna memastikan kebebasan navigasi dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan dunia.
Sebagai bentuk kesiapan operasi, London bahkan mengalokasikan anggaran sebesar 115 juta pound sterling atau sekitar Rp2,7 triliun untuk memperkuat sistem pesawat nirawak dan perlengkapan keamanan maritim.
Prancis Bantah Akan Kerahkan Kapal Perang
Berbanding terbalik dengan sikap Inggris, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru membantah laporan yang menyebut Prancis akan mengerahkan kapal perang langsung ke Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Macron setelah Teheran mengeluarkan ancaman keras terhadap Prancis dan Inggris tentang kemungkinan pengerahan militer Barat ke jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca tanpa iklan