Hindustan Times melaporkan bahwa dalam insiden terpisah pada awal tahun ini, akun email pejabat FBI turut menjadi target peretasan yang dikaitkan dengan operasi disinformasi digital.
Perang Siber dan Perang Narasi
Para analis keamanan menilai rangkaian insiden ini menunjukkan eskalasi “perang hibrida”, di mana konflik tidak hanya terjadi secara militer, tetapi juga di ruang digital, psikologis, dan media sosial.
Baca juga: Kasus Peretas WFT, Dosen Unsrat: Polisi Tak Salah Tangkap, tapi Kasusnya Berbeda
Di satu sisi, aktor peretasan diduga menggunakan konten propaganda, audio historis, hingga simbol politik untuk membangun narasi tandingan terhadap kebijakan luar negeri AS.
Di sisi lain, lembaga militer dan pemerintahan AS juga disebut semakin aktif memproduksi konten digital bergaya sinematik untuk mendukung operasi militer dan komunikasi publik, sebuah tren yang kerap dibandingkan dengan estetika video game perang modern.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan