Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Jepang memiliki tradisi dan tata krama yang sangat dijunjung tinggi dalam setiap upacara pemakaman. Bagi warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal, bekerja, atau belajar di Jepang, memahami etika saat menghadiri pemakaman dapat membantu menunjukkan rasa hormat kepada keluarga yang berduka sekaligus menghindari kesalahan yang tidak disengaja.
Pemakaman di Jepang umumnya terdiri atas dua tahapan utama, yaitu otsuya (お通夜) atau malam peringatan sebelum pemakaman, dan sōgi (葬儀) atau upacara pemakaman itu sendiri.
- Berpakaian Serba Hitam
Salah satu aturan yang paling mudah dikenali adalah penggunaan pakaian serba hitam.
Pria biasanya mengenakan jas hitam polos, kemeja putih, dasi hitam, serta sepatu hitam.
Sementara wanita dianjurkan mengenakan pakaian hitam yang sederhana dan sopan tanpa perhiasan mencolok.
Warna-warna cerah, motif yang mencolok, serta aksesori berlebihan dianggap kurang pantas dalam suasana berkabung.
Baca juga: Yōhei Kōno, Mantan Ketua DPR Jepang, Meninggal Dunia pada Usia 89 Tahun
2. Membawa Uang Duka atau Kōden
Dalam budaya Jepang dikenal tradisi memberikan uang duka yang disebut kōden (香典) atau Kodenbukuro (amplop dukacita).
Uang tersebut dimasukkan ke dalam amplop khusus berwarna hitam-putih atau hitam-perak yang mudah ditemukan di toko alat tulis maupun minimarket.
Besarnya uang duka biasanya disesuaikan dengan kedekatan hubungan dengan almarhum: Teman atau kenalan biasa: 5.000–10.000 yen, Rekan kerja atau kenalan dekat: sekitar 10.000 yen, Kerabat atau sahabat dekat: 10.000–30.000 yen atau lebih
Masyarakat Jepang juga memiliki sejumlah pantangan terkait jumlah uang yang diberikan.
Misalnya, pemberian 20.000 yen tanpa pecahan sering dihindari karena dianggap melambangkan perpisahan atau keterputusan hubungan.
Olehkarena itu jangan berikan 20.000 yen bulat, tapi berikan misalnya 21.000 yen," papar seorang ahli upacara pemakaman Jepang Yamada kepada Tribunnews.com Rabu (10/6/2026).
Baca tanpa iklan