Saat bertemu keluarga yang berduka, ucapan singkat dan tulus lebih dihargai daripada kata-kata panjang.
Ucapan yang paling umum adalah: 「このたびはご愁傷様です」 (Kono tabi wa goshūshō-sama desu) “Turut berduka cita atas wafatnya almarhum/almarhumah.”
Atau yang lebih formal:
「心よりお悔やみ申し上げます」 (Kokoro yori okuyami mōshiagemasu) “Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.”
4. Tata Cara Membakar Dupa
Dalam pemakaman Buddha, para pelayat biasanya melakukan penghormatan dengan dupa atau shōkō (焼香).
Umumnya tamu membungkuk kepada keluarga yang berduka, mengambil sedikit bubuk dupa dan meletakkannya di atas bara, kemudian berdoa sejenak sebelum membungkuk kembali.
Karena tata caranya bisa berbeda-beda tergantung aliran Buddha dan daerah, pelayat yang belum terbiasa cukup mengikuti orang yang berada di depannya.
Baca juga: Tiga Wanita Ditemukan Tewas di Apartemen Sapporo Jepang, Polisi Selidiki Dugaan Bunuh Diri Bersama
Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari
Dalam suasana berkabung, terdapat beberapa hal yang dianggap tidak sopan atau pantangan, antara lain: Jangan berbicara keras atau tertawa, dilarang mengambil foto tanpa izin keluarga, Hindarkan menggunakan kata-kata yang bermakna pengulangan seperti: 重ね重ね (kasanegasane) = berulang-ulang; たびたび (tabitabi) = berkali-kali dan 再び (futatabi) = lagi
Ungkapan tersebut dihindari karena dianggap mengingatkan pada kemungkinan terulangnya kematian atau musibah.
Pemakaman Katolik dan Kristen
Bagi umat Katolik maupun Kristen yang tinggal di Jepang, tata cara pemakaman memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan tradisi Buddha.
Biasanya tidak ada ritual pembakaran dupa.
Acara lebih berpusat pada doa, ibadah, dan misa arwah.
Pelayat tetap dapat memberikan uang belasungkawa, namun sering disebut ohanaryō (御花料) atau “uang bunga”.
Dalam pemakaman Katolik, tanda salib, doa bersama, lagu rohani, dan pembacaan Kitab Suci menjadi bagian penting dari upacara.
Datang Tepat Waktu
Ketepatan waktu juga sangat dihargai di Jepang.
Baca tanpa iklan