TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.570 pada Jumat (12/6/2026).
Militer Ukraina mengklaim berhasil melumpuhkan salah satu jalur logistik terpenting Rusia yang dikenal sebagai "Jalan Raya Kematian".
Jalur R-280 merupakan rute vital yang menghubungkan Kota Rostov-on-Don di Rusia dengan wilayah-wilayah pendudukan Rusia di Ukraina selatan, termasuk Melitopol, Mariupol, dan Krimea.
Menurut komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, operasi yang disebut "kampanye serangan tengah" berhasil menurunkan lalu lintas logistik militer Rusia hingga 71 persen dalam dua pekan terakhir.
Puluhan truk pengangkut amunisi, kendaraan logistik, dan tanker bahan bakar dilaporkan hancur akibat serangan drone yang terus-menerus.
Serangan juga menghantam Jembatan Chonhar, salah satu penghubung utama antara wilayah Kherson yang diduduki Rusia dengan Krimea.
Komandan Ukraina, Dmytro Filatov menyebut kerusakan pada jembatan tersebut telah mencapai tingkat "kritis" sehingga lalu lintas kendaraan terpaksa dihentikan.
Selain itu, Ukraina juga menyerang Kota Armiansk yang menjadi pintu masuk darat utama menuju Krimea, menghancurkan sejumlah truk pengangkut bahan bakar dan amunisi Rusia.
Serangan-serangan tersebut menunjukkan perubahan strategi Ukraina yang kini semakin fokus menyerang logistik dan rantai pasokan Rusia dibanding sekadar garis depan pertempuran, lapor Suspilne.
Baca juga: Ukraina Tuduh Rusia Rekrut Gadis 17 Tahun untuk Bunuh Tentara
E3 Desak Rusia-Ukraina Duduk Semeja, Moskow Diminta Segera Gelar Negosiasi Langsung
Para duta besar Inggris, Prancis, dan Jerman untuk Rusia menyerukan dimulainya kembali pembicaraan langsung antara Moskow dan Kyiv dalam pertemuan langka dengan Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis (11/6/2026).
Langkah tersebut muncul setelah para pemimpin tiga negara Eropa yang tergabung dalam kelompok E3 bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di London awal pekan ini.
Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menyampaikan dukungan terhadap seruan Zelenskyy agar Rusia dan Ukraina kembali menggelar negosiasi langsung guna mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Pertemuan ini tergolong tidak biasa karena sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, komunikasi tingkat tinggi antara diplomat Eropa dan pejabat Rusia sangat terbatas.
Namun Rusia menanggapi dingin usulan tersebut. Moskow justru menuduh negara-negara Eropa menjalankan kebijakan "destruktif" terhadap konflik Ukraina dan berusaha memperpanjang perang demi kepentingan geopolitik mereka.
Di tengah mandeknya upaya mediasi yang dipimpin Amerika Serikat serta meningkatnya perhatian dunia terhadap konflik AS-Iran, Eropa kini mencoba mengambil peran lebih besar dalam mendorong proses perdamaian.
Baca tanpa iklan