News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Waspadai Aritmia, Gangguan Irama Jantung yang Bisa Picu Stroke

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GANGGUAN IRAMA JANTUNG - Asep Aji Fatahilah, Pendiri Komunitas KDS Penyintas Stroke, Dr. Zicky Yombana Babeheer, SpN, AIFO-K, DAI FIDN, CPS, Neurolog Brawijaya Saharjo & Mayapada Kuningan dan Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia saat peluncuran tensimeter digital terbaru yang dilengkapi teknologi IntelliSense AFib di Jakarta, Rabu (22/10/2025)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Irama jantung yang tidak teratur atau fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF) merupakan salah satu gangguan jantung yang dapat meningkatkan risiko stroke iskemik secara signifikan.

Peringatan ini disampaikan oleh dr. Zicky Yombana Babeheer, SpN, AIFO-K, DAI FIDN, CPS, neurolog dari RS Brawijaya Saharjo dan Mayapada Kuningan, dalam sesi edukasi kesehatan yang membahas cara kerja jantung serta dampak gangguan irama terhadap sirkulasi darah.

Menurut dr. Zicky, jantung normal seharusnya memompa darah secara teratur dari bilik ke serambi, lalu mengalirkannya ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Namun pada penderita fibrilasi atrium, detak jantung menjadi tidak teratur dan bergetar sehingga aliran darah tidak lagi optimal.

Baca juga: Stres Bisa Bikin Jantung Berdetak Tidak Teratur, Waspadai Risiko Aritmia dan Serangan Jantung

“Harusnya pompa jantung itu satu detak jelas — jebret. Tapi pada fibrilasi, detaknya bergetar dan tidak terkoordinasi. Akibatnya, darah tidak mengalir lancar dan bisa menggumpal,” jelasnya di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Untuk memudahkan pemahaman, Zicky memberi ilustrasi sederhana.

“Bayangkan kita keluar dari satu pintu secara bergantian, semua lancar. Tapi kalau berebut, pasti ada yang jatuh. Begitu juga dengan jantung. Kalau iramanya tidak teratur, aliran darah jadi kacau dan bisa membentuk gumpalan,” ujar dr Zicky.

Gumpalan darah tersebut bisa berpindah ke otak dan menyebabkan stroke iskemik, yaitu jenis stroke yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak.

Selain aritmia,  Zicky menekankan pentingnya pemeriksaan tekanan darah (tensi) yang dilakukan secara benar untuk memastikan hasil yang akurat.

“Jangan ukur tekanan darah setelah marah, baru olahraga, atau saat terburu-buru. Itu tidak valid,” tegasnya.

Ia menyarankan pengukuran dilakukan dua kali dalam kondisi tubuh tenang, karena baik tekanan darah tinggi maupun rendah sama-sama perlu diwaspadai jika hasilnya tidak normal secara berulang.

Risiko dan Penanganan Fibrilasi Atrium

Dalam penanganan fibrilasi atrium, pasien umumnya diberikan obat pengencer darah guna mencegah pembentukan gumpalan darah.

Namun, masih banyak pasien yang menghentikan konsumsi obat tanpa konsultasi dokter.

“Banyak pasien berhenti karena bosan atau takut efek samping. Padahal, kalau obat dihentikan, risiko stroke bisa melonjak,” tegas dr. Zicky.

Ia menekankan bahwa fibrilasi atrium sering kali tidak disadari penderitanya karena gejalanya bisa sangat ringan.

Baca juga: Berikut Pola Hidup dan Kebiasaan yang Berisiko Meningkatkan Aritmia Jantung

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini