Secara sistemik, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan individu atau keluarga.
Minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diakses, rendahnya literasi kesehatan mental, serta lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas turut memperparah situasi.
“Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk,"kata dr Lahargo.
Pencegahan Harus Berlapis, Tidak Bisa Mengandalkan Satu Pihak*
WHO menegaskan bahwa bunuh diri dapat dicegah melalui intervensi dini, sistem dukungan yang kuat, serta lingkungan yang aman secara emosional.
Di tingkat keluarga, pencegahan dimulai dengan membangun komunikasi emosional, bukan semata disiplin.
Perasaan anak perlu divalidasi sebelum diberi nasihat, dan orangtua perlu berani mencari bantuan profesional.
Di sekolah, guru perlu dilatih mengenali tanda distres psikologis serta melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis. Sistem konseling harus bersifat aktif, disertai budaya anti-bullying yang nyata.
Sementara di tingkat masyarakat dan negara, perluasan akses layanan kesehatan jiwa anak, peningkatan literasi kesehatan mental sejak dini.
Serta, kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi keluarga menjadi kunci pencegahan jangka panjang.
“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya,"pungkasnya.
Baca tanpa iklan