TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak pasien yang terinfeksi dengue atau demam berdarah dengue, merasa lega ketika demam tinggi mendadak turun.
Badan terasa lebih enak, nyeri berkurang, dan aktivitas mulai normal. Padahal, pada infeksi dengue, momen inilah yang justru paling berbahaya.
Ketua Koordinator Organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Adityo Susilo, menyebut kondisi ini sebagai jebakan klinis yang sering tidak disadari pasien.
“Kalau orang itu demam tinggi, terus di hari keempat demamnya turun, dia akan nampak dirinya udah sembuh,” kata dr Adityo pada Media Briefing “Musim Hujan, Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa” yang diselenggarakan PAPDI dan Kemenkes di Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Infeksi dengue berjalan melalui tiga fase berurutan: fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan.
Fase kritis biasanya muncul ketika demam mulai turun, sekitar hari keempat hingga keenam.
Baca juga: Demam Transfer Persib Tak Menyentuh Miliano Jonathans, Misi Darurat Excelsior Penyebabnya
Di fase inilah kerusakan pembuluh darah justru makin berat, meski suhu tubuh terlihat membaik.
“WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) bilang ini namanya critical phase. Tapi it's going to be very tricky karena klinis demamnya turun,” ujar Adityo.
Penurunan demam sering membuat pasien menunda berobat atau menghentikan observasi, padahal risiko komplikasi sedang berada di puncaknya.
Saat fase kritis, cairan dalam pembuluh darah bisa merembes keluar. Akibatnya, tekanan darah menurun dan risiko syok meningkat.
Ia menjelaskan bahwa inilah alasan dengue bisa berkembang menjadi kondisi paling berat.
“Dengue shock syndrome itu adalah yang paling berat. Karena terjadi shock,” tegasnya.
Pada saat bersamaan, trombosit dapat turun drastis karena dipakai tubuh untuk menahan kerusakan pembuluh darah, sehingga risiko perdarahan ikut meningkat.
Tidak Ada Jalan Pintas Lewati Fase Kritis
Banyak pasien berharap bisa “lompat” dari fase demam langsung ke fase pemulihan. Namun harapan ini tidak realistis secara medis.
Baca tanpa iklan