Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Nurcholis Majid
TRIBUNNEWS.COM, BANTEN - Aneka wahana hiburan mulai dari bianglala, komedi putar, hingga ombak banyu tersedia di acara pasar malam yang terletak di Kampung Sumur, Pandeglang, Banten, Sabtu (22/12/2018) petang.
Di pasar malam itu juga ramai para pedagang makanan hingga pakaian.
Alunan musik dangdut juga terdengar di beberapa sudut pasar malam.
Namun, hiruk pikuk pasar malam yang semula ceria, sekita berubah menjadi kepanikan.
Baca: Marko Simic Ingin Lelang Jersey Bersejarah demi Bantu Korban Tsunami Banten dan Lampung
Teriakan khas anak-anak saat bermain pun lenyap seketika dan berubah menjadi pekikan minta tolong.
Semua orang pun panik dan lari pontang-panting menyelamatkan diri.
Begitulah cerita Aep (34) warga Sumur ketika mengisahakan menit demi menit saat tsunami Selat Sunda memporak-porandakan pasar malam yang diadakan di kampungnya.
"Semua orang berteriak-teriak, ibu memanggil anaknya. Anak memanggil ibu nya, sudah enggak tahu lagi, semua gelap," kata Aep, saat berbincang denganTribunnews.com, Rabu (26/12/3018).
Baca: 6 Pasang Artis yang Dipisahkan oleh Maut Akibat Tsunami Banten
Aep bercerita, malam itu tidak ada sama sekali tanda-tanda akan datangnya tsunami.
Semua tampak biasa saja, air laut dan bergelombangnya terlihat seperti biasanya.
Namun, beberapa menit sebelum tsunami terjadi, dikatakan Aep listrik padam di kampunya.
Beberapa anak juga masih bermain di wahana pasar malam.
Pasar itu sedianya tutup pukul 22.00.