Melalui perekayasaan dan kliring teknologi, ia optimis Indonesia mampu menghadirkan sebuah sistem yang memenuhi standar internasional dalam pembangunan LRT.
Menyoroti perkembangan industri perkeretaapian di era revolusi industri 4.0, kliring teknologi diperlukan untuk membangun kemandirian dalam upaya mendorong kemajuan Indonesia yang berdaya saing, termasuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.
"BPPT juga sedang melakukan kliring teknologi agar ke depannya tidak harus melakukan impor lagi, sehingga nantinya Indonesia mampu membangun SDM, talent unggul yang memang menguasai sistem kereta Api," kata Hammam.
Dalam proses ini, Hammam tidak memungkiri bahwa kerja sama diperlukan untuk penguasaan teknologi.
Sehingga kolaborasi dengan negara produsen teknologi lainnya seperti Tiongkok (China) dan Spanyol tentunya menjadi wahana pembelajaran.
"Tentunya juga proses kliring teknologi ini tidak luput dari kerja sama yang dilakukan dengan produsen teknologi dari beberapa negara seperti China, Spanyol," kata Hammam.
Perlu diketahui, Tiongkok pun sebelumnya telah melakukan hal yang sama pada industri perkeretaapian negaranya, khususnya proyek kereta cepat.
Hingga akhirnya, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu mampu mandiri dan memproduksi keretanya sendiri, satu diantaranya kereta Maglev.
Awalnya, Negeri Tirai Bambu itu mengadopsi teknologi dari Prancis, dan akhirnya berhasil mengembangkannya.
Di Tiongkok, Maglev merupakan kereta api tercepat di dunia, jarak tempuhnya diperkirakan sekitar 380 km per jam.
Terkait pembangunan dalam proyek infrastruktur, pemerintah memang masih menjadikan program ini sebagai salah satu fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.