News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kasus Dugaan Korupsi di Kemendikbud

Jaksa Heran Harga Satuan Chromebook di e-Katalog Lebih Mahal Dibanding Marketplace

Penulis: Fahmi Ramadhan
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SIDANG KASUS CHROMEBOOK - Sidang lanjutan dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/1/2026). Dalam sidang ini jaksa mempertanyakan terkait harga satuan chromebook di e-katalog lebih mahal dibanding marketplace.

"Dan harganya?" tanya Jaksa memastikan.

"Range-nya mulai dari Rp 5 juta sampai mungkin di atas 7, 8 juta. Ada saya bawa datanya," tutur Dhani.

"Itu harga e-katalog untuk pengadaan APBN gitu?" tanya Jaksa.

"E-katalog," jawab Dhani.

Lalu ketika jaksa coba memastikan kepada Dhani bahwa harga satuan chromebook yang tertera di e-katalog itu lebih tinggi dibanding dengan sejumlah marketplace yang ada, Dhani mengaku tidak tahu.

Pasalnya kata Dhani, saat melakukan survei, dia tidak membandingkan harga satuan chromebook yang ada di e-katalog dengan yang tertera di marketplace.

"Iya lebih tinggi dari yang ada di marketplace, shopee, Tokopedia, Blibli segala macam?" tanya Jaksa.

"Saya tidak membandingkan ya dengan market place karena saya memilih menggunakan e-purchasing," jawab Dhani.

Dalam sidang ini Harnowo Susanto dan Dhani Khamidan Khoir diperiksa sebagai saksi untuk tiga terdakwa, di antaranya:

  1. Mulyatsyah, Direktur SMP Kemendikbudristek 2020
  2. Sri Wahyuningsih, Direktur Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah tahun 2020-2021
  3. Ibrahim Arief alias Ibam, tenaga konsultan

Didakwa Rugikan Negara Rp 2,1 Triliun

Mulyatsyah, Sri Wahyuningsih, dan Ibrahim Arief didakwa telah merugikan negara sebesar Rp 2,1 Triliun dalam kasus dugaan korupsi pengadaan chromebook dalam Program Digitalisasi Pendidikan di Kemendikbudristek.

Selain dari pengadaan chromebook, angka kerugian itu juga berasal dari pengadaan Chrome Device Management (CDM) terkait program yang sama di Kemendikbudristek era Nadiem Makarim.

Jaksa menjelaskan, bahwa taksiran kerugian keuangan negara itu berasal angka kemahalan harga chromebook sebesar Rp 1.567.888.662.716 (Rp1,5 triliun).

Kemudian pengadaan CDM yang dimana pengadaannya dianggap tidak diperlukan dan tidak bermanfaat sebesar Rp 621.387.678.730 (Rp 621 miliar).

Kata Jaksa, perhitungan kerugian keuangan negara itu juga berdasarkan hasil Laporan Hasil Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia (BPKP RI).

Serta penentuan angka tersebut juga merujuk berdasarkan kurs terendah pada bulan Agustus 2020 sampai dengan Desember 2022 sebesar Rp 14.105,- untuk 1 Dollar Amerika Serikat.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini