TRIBUNNEWS.COM -- Sempat tak beroperasi di Indonesia karena adanya larangan regulator, telah TikTok kembali berbisnis melalui e-commerce.
TikTok mencaplok sebagian besar saham Tokopedia. Media sosial asal China tersebut kini memegang saham Tokopedia sebesar 75 persen.
Investasi TikTok akan dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, sebesar 340 juta dolar AS atau Rp 5,33 triliun untuk pembelian aset Tokopedia.
Baca juga: TikTok Beberkan Alasan Gandeng Tokopedia: Kami Punya Visi Misi yang Sama
"Pembelian aset milik Tokopedia itu berupa kontrak bisnis dan hak eksklusif untuk menghidupkan kembali TikTok Shop di Indonesia," kata Sekretaris Perusahaan GoTo, R A Koesoemohadiani, Senin (11/12/2023), dikutip dari Kontan.
TikTok juga akan menggelontorkan 840 juta dolar AS atau Rp 13,18 triliun. Dana ini bakal dipakai TikTok untuk mencaplok dan membayar atas saham baru yang dikeluarkan PT Tokopedia.
Paska transaksi ini, struktur kepemilikan saham Tokopedia ikut berubah menjadi 75 persen milik Tiktok yang berkedudukan di Singapura dan 25 persen milik GOTO.
Adapun transaksi ini menerapkan prinsip non dilutive shares.
Artinya, porsi saham GOTO tidak akan menyusut, tetap sebesar 25 persen, apabila Tiktok di kemudian hari kembali injeksi modal ke Tokopedia.
Yunie Lie Assosciate Director Erdhika Elite Securities menyatakan aksi korporasi tersebut sangat baik bagi Tokopedia.
Yunie mengatakan, selama ini TikTok Shop dikenal sebagai media commerce yang mempunyai kemampuan menjual cukup baik. "TikTok akan fokus memperkuat Tokopedia. Dengan video-video TikTok Shop yang cukup baik. Dengan algoritma yang ada di TikTok akan membantu banget," ujarnya.
Dikutip dari IDX Channel, Yunie juga mengatakan bahwa GoTo sekarang bisa fokus pada bisnis Gojek, Gopay dan paylaternya. "GoTo tidak perlu lagi bakar-bakar uang," ujar Yunie.
Baca juga: Lirik dan Terjemahan Wide Awake - Katy Perry, Viral di TikTok: Thunder Rumbling, Castles Crumbling
Sementara Direktur Eksekutif Segara Research Institut, Piter Abdullah Redjalam menilai, strategi ini bukan hanya menghemat waktu, juga menjadi pijakan yang kuat bagi Tiktok dan mitra lokalnya untuk memenangkan kompetisi di pasar digital tanah air.
Idealnya Tiktok bikin platform e-commerce sendiri.
"Tapi, butuh waktu berapa lama? Ini bukan hanya soal kecepatan membangun infrastruktur dan rekrutmen talenta berkemampuan khusus, juga perizinan dan proses lainnya. Intinya sangat memakan waktu, belum tentu efektif,” katanya, Selasa (12/12/2023).