Lebih lanjut, Sofyan Lestaluhu mengatakan bahwa puasa hadir sebagai momen muhasabah atau introspeksi diri.
Melalui ibadah ini, manusia dilatih untuk memperbaiki hati agar tidak mudah membenci orang lain serta tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sama.
Puasa juga disebut sebagai obat bagi penyakit hati.
Inilah salah satu alasan mengapa Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk berpuasa.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba 'alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba 'alal-lażīna min qablikum la'allakum tattaqūn(a). (QS. Al-Baqarah: 183)
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Bulan Ramadan juga diibaratkan seperti aliran sungai yang dipenuhi dengan aliran ketaatan.
"Hari-harinya diisi dengan berbagai kebaikan, sedangkan malam-malamnya dipenuhi dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an," kata Sofyan Lestaluhu, yang juga merupakan Kepala KUA Kecamatan Sirimau, di Kota Ambon, Maluku.
Tujuan utama dari ibadah puasa adalah memperbaiki hati manusia.
Dengan berpuasa, seseorang belajar mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Baca juga: Bacaan Doa dan Hal-Hal yang Dapat Dilakukan untuk Menghidupkan Malam Nuzulul Quran
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Hasan al-Kaubawi dalam bukunya Durratun Naasihiin, diceritakan tentang dialog antara akal dan nafsu ketika keduanya diciptakan oleh Allah SWT.
Riwayat ini menggambarkan bagaimana perbedaan sikap antara akal dan nafsu dihadapan Allah.
"Dikisahkan bahwa ketika Allah Subhanahu wa taala menciptakan akal dan nafsu, yang pertama kali dipanggil adalah akal. Ketika akal berdiri di hadapan-Nya, Allah bertanya, “Wahai akal, man ana waman anta? Siapakah Aku dan siapakah engkau?” Akal kemudian menjawab dengan penuh ketundukan, “Anta rabbi wa ana abduka.” Artinya, Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Mendengar jawaban tersebut, Allah Subhanahu wa taala pun memuliakan akal karena kerendahan hati dan pengakuannya kepada Sang Pencipta.
Setelah itu, Allah Subhanahu wa taala memanggil nafsu dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Siapakah Aku dan siapakah engkau?” Namun dengan sikap sombong, nafsu menjawab, “Engkau adalah engkau dan aku adalah aku.” Karena kesombongan itu, Allah Subhanahu wa taala memasukkan nafsu ke dalam neraka jahim selama 100 tahun.
Setelah masa tersebut berlalu, nafsu kembali dipanggil dan ditanya dengan pertanyaan yang sama. Namun nafsu masih tetap menjawab dengan sombong, “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.” Mendengar jawaban itu, Allah Subhanahu wa taala semakin murka dan kemudian memasukkan nafsu ke dalam neraka yang disebut neraka ju, yaitu neraka yang dipenuhi dengan rasa lapar dan haus, tanpa makanan dan minuman. Neraka yang isinya orang-orang kelaparan dan kehausan.
Baca tanpa iklan