Dalam keadaan penuh penderitaan itulah nafsu akhirnya menjadi lemah. Ketika tidak ada makan dan minum, nafsu kehilangan kekuatan dan kesombongannya pun runtuh. Pada akhirnya, nafsu menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah Subhanahu wa taala dengan penuh kerendahan hati sambil berkata, “Wahai Tuhan, Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu.”
Kisah tersebut menggambarkan bahwa puasa menjadi sarana untuk melemahkan hawa nafsu yang kerap mendorong manusia melakukan berbagai perbuatan yang tidak baik.
Melalui puasa, seseorang belajar menahan diri, mengendalikan keinginan, serta memperbaiki sikap dan perilakunya.
Karena itu, manusia tidak seharusnya menjadikan nafsu sebagai pemimpin dalam hidupnya.
Sebaliknya, nafsu harus dikendalikan agar tidak membawa seseorang pada perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
"Puasa memperbaiki hati kita dengan mengalahkan setiap tindakan-tindakan yang tidak baik yang dipengaruhi oleh nafsu kita," jelas Sofyan Lestaluhu.
Kesimpulannya, dalam kehidupan ini jangan sekali-kali menjadikan nafsu sebagai pemimpin atas diri kita. Namun, jadikanlah hati dan akal sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian, berbahagialah mereka yang selama hidupnya selalu menjadikan hati dan akalnya sebagai pemimpin dalam setiap langkah kehidupannya.
(Tribunnews.com/Latifah)
Baca tanpa iklan