- Menghormati keberadaan suku, agama, ras dan golongan
- Menggunakan paling banyak 3 (tiga) kata
- Menghindari penggunaan nama orang yang masih hidup dan dapat menggunakan nama orang yang sudah meninggal dunia paling singkat 5 (lima) tahun terhitung sejak yang bersangkutan meninggal dunia
- Menghindari penggunaan nama instansi/lembaga
- Menghindari penggunaan nama yang bertentangan dengan kepentingan nasional dan/atau daerah
- Memenuhi kaidah penulisan nama rupabumi dan kaidah spasial.
Baca juga: Sejarah Gunung Karangetang, Tahun 1962 Pernah Terjadi Erupsi Besar, Kolom Asap Setinggi 2000 M
Penamaan Gunung Bawah Laut Pacitan
Pemberian nama gunung bawah laut Pacitan masih dalam proses finalisasi.
Soal penamaannya, BIG mengundang para pakar geologi, hidrografi dan pemerintah daerah pada Rabu (8/2/2023).
Kepala Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai (Kapus PKLP), mengatakan perlu kesepakatan dari para ahli tentang gunung bawah laut, dikutip dari laman Badan Informasi Geospasial (BIG).
Selain itu, proses pemberian namanya dengan melibatkan K/L dan pemda setempat.
Gunung bawah laut di Pacitan ini merupakan seamount, dari sisi geologi mau pun dari sisi hidrografi.
Untuk penamaannya, para pakar setuju untuk tidak menggunakan nama orang.
Hal ini karena berkaitan dengan mitigasi bencana dan bisa jadi gunung bawah laut itu menjadi ancaman bencana di masa depan.
Baca juga: Sejarah Letusan Gunung Krakatau 1883 yang Guncang Dunia, 2 Hari Abu Vulkanik Halangi Sinar Matahari