“Skill itu nomor dua. Yang utama adalah karakter,” tegas Cahyo.
Melalui tokoh-tokoh wayang, para siswa diajak memahami dan meneladani nilai-nilai kehidupan.
Tokoh Arjuna, misalnya, dijadikan contoh karakter kesatria yang jujur, rendah hati, bijaksana, dan suka menolong.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya dipahami di atas panggung, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sanggar Madhangkara terbuka bagi berbagai kalangan usia. Pesertanya berasal dari anak sekolah dasar hingga mahasiswa.
Bahkan, dalam satu periode pendaftaran, jumlah siswa yang mendaftar bisa mencapai puluhan orang.
Hal ini menjadi bukti bahwa seni wayang masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Selain menjadi ruang belajar, Sanggar Madhangkara juga berfungsi sebagai laboratorium kreativitas.
Di sinilah berbagai inovasi dalam pementasan wayang dirancang, tanpa meninggalkan pakem dan nilai moral yang menjadi ruh utama seni pedalangan.
Penggunaan bahasa Indonesia dalam pementasan tertentu, penyajian ringkasan cerita, hingga pemanfaatan media digital menjadi bagian dari strategi agar wayang lebih mudah dipahami oleh penonton awam.
Tak hanya itu, Sanggar Madhangkara juga aktif menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Pertunjukan wayang tidak lagi terbatas pada panggung konvensional, tetapi juga disiarkan melalui platform digital seperti YouTube dan TikTok.
Langkah ini dilakukan agar wayang dapat menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda.
Meski terbuka terhadap inovasi, Cahyo menegaskan bahwa setiap pembaruan harus tetap berpegang pada pakem.
Menurutnya, pakem bukanlah batas kreativitas, melainkan rambu agar seni wayang tidak kehilangan jati diri.
Baca tanpa iklan