Bagi dalang yang juga berprofesi sebagai Dosen Pedalangan di ISI Surakarta ini, keberadaan Sanggar Madhangkara bukan hanya tentang melahirkan dalang-dalang baru.
Lebih dari itu, sanggar ini menjadi wadah untuk menanamkan nilai kehidupan, menjaga warisan budaya leluhur, sekaligus membentuk generasi yang berkarakter.
Di tengah gempuran budaya populer dan hiburan instan, Sanggar Madhangkara berdiri sebagai pengingat bahwa seni tradisi masih relevan.
Selama nilai-nilai moral terus dijaga dan diwariskan, wayang akan tetap hidup dan bermakna bagi generasi masa depan.
Belum Mendapat Apresiasi dari Pemerintah Setempat
Hingga kini, Cahyo mengaku bahwa sanggar Madhangkara belum mendapat dukungan dari pemerintahan setempat.
Padahal, Desa Sawahan tersebut telah ditetapkan sebagai Kampung Wayang oleh mantan Bupati Karanganyar, Juliyatmono.
“Pelestarian budaya ini membutuhkan peran masyarakat, pejabat, dan senimannya. Jadi (pemerintah) belum,” tegas Cahyo.
“Waktu dijadikan Kampung Wayang cuma dikasih SK (Surat Keputusan) saja, ketika beliau (Juliyatmono) sudah tidak menjabat ya tidak ada apa-apa,” lanjut Cahyo.
Walaupun dikelola secara mandiri, Cahyo mengaku sanggarnya turut mendapat bantuan dari anggota DPRD setempat.
“Ya ada satu dua peran dari pemerintah atau anggota dewan yang memberikan support. Itu saja kita harus mendekat, melobi, supaya mereka mau membantu,” terang Cahyo.
Ia berharap kedepannya sanggar ini bisa mendapatkan apresiasi dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.
(Tribunnews.com/Falza)
Baca tanpa iklan