News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

New Normal, Budaya Malu, dan Berita Nyesek Slavoj Žižek

Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pengelola gerai berbenah dengan memperketat protokol pembatasan jumlah pengunjung dalam satu gerai jelang pemberlakuan new normal, di Tunjungan Plaza, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/5/2020). Selain menerapkan aturan one way system untuk menghindari pengunjung saling berpapasan satu sama lain, Tunjungan Plaza juga membatasi banyaknya pengunjung di gerai sesuai luas gerai dan pembatasan keluar masuk pengunjung di setiap gerai.

Oleh: Xavier Quentin Pranata, Kolumnis dan Penulis Buku

Xavier Quentin Pranata, Kolumnis dan Penulis Buku (Kompas.com)

“New Normal? Ah, gombal!” Bisa jadi itulah yang keluar dari mulut sebagian kita.

Mengapa? Karena kelaziman baru ini sebenarnya adalah eufemisme dari apa yang bisa jadi tagar yang gahar #pemerintahnyerah.

Dari Gagah sampai Nyerah

Sejak Covid-19 menghajar dunia sampai hampir koit, buku PANDEMIC!: Covid-19 Shakes the World karya Slavoj Žižek menjadi populer.

Filsuf psikoanalitik Slovenia ini memberikan road map respons setiap orang (baca = negara) menghadapi pandemi virus yang sangat menular ini.

Pertama, mirip dengan orang yang mengalami bencana dari putus cinta sampai kehilangan orang terkasih denial.

Penyangkalan diri ini sebagai bagian dari defence mechanism untuk tetap waras.

Bukankah banyak di antara kita yang saat tragedi menimpa bisa nekat sampai gila dan merasa semua itu hanya mimpi. Sikap ini sungguh berbahaya.

Wilayah atau negara yang mengklaim dirinya green zone, bisa jadi justru merah membara.

Dari berita yang kita dapatkan, bukankah negara maju seperti China, Eropa dan Amerika, termasuk Singapura, yang persentase penduduk yang terjangkit penyakit sulit ini tinggi dibandingkan negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia?

Mengapa bisa demikian? Apakah betul, negara-negara yang katanya bebas korona memang sungguh-sungguh tidak terjangkit? Atau karena tidak diungkit?

Penyebabnya sederhana: dua M.

M yang pertama adalah ‘Malu’. Siapa yang senang kalau negaranya dianggap sumber penyakit? M yang kedua adalah ‘Mahal’.

Janji Jokowi untuk mengadakan test masif terhadap virus ini sulit ditepati karena biaya yang dikeluarkan untuk melakukan test korona terhadap 269 juta penduduk Indonesia sangatlah besar.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini